Yogyapos.com (YOGYA) - Pariwisata adalah ruang dimana segala segmen dan stakeholder bisa bertemu. Selain menyediakan lahan bisnis yang menjanjikan, juga bisa dijadikan pintu untuk memberdayakan potensi masyarakat dan jaringan internasional. Terkait kepentingan bagi perguruan tinggi, juga mempermudah akademisi untuk membumikan ilmunya.
Untuk itulah penting dibentuk forum lintas bidang yang bisa mempertemukan beragam kepentingan. Itulah benang merah konferensi internasional pariwisata berkelanjutan yang digelar STIE Pariwisata API Yogyakarta. Konferensi internasional tersebut membahas ekonomi kreatif, pariwisata, dan manajemen informatika ini digelar di Yogyakarta, 17 Juli 2019. International Conference in Creative Economics, Tourism, & Information Management (ICCETIM) menjadi tempat berkumpulnya peneliti dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas isu-isu terkini bidang yang terkait. “Tujuan dari diadakannya konferensi yang diagendakan rutin setiap tahun ini selain sebagai ajang pertukaran ide dan penemuan baru di bidang ilmu ekonomi dan pariwisata juga untuk mempersempit jurang ilmu pengetahuan di antara akademisi dan pemangku kepentingan di bidang pariwisata dan bisnis terkait,” jelas Ketua STIEPAR API, Susilo Budi Winarno SH MH, saat membuka konferensi ICCETIM, Rabu (17/7/2019).
Tampil sebagai pembicara utama adalah DR Darmawan Napitupulu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Ximena Arango-Estevez dari University of the Sunshine Coast, Queensland, Australia. Selain itu sebanyak 47 (empat puluh tujuh) makalah riset dari akademisi, dosen dan mahasiswa serta peneliti dari Indonesia, Malaysia, Taiwan, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Australia dipaparkan pada kesempatan konferensi ini. Saat ditemui yogyapos.com, Susilo menjelaskan, peserta yang datang dari berbagai kampus terkemuka menyampaikan hasil riset dan temuan mereka. Seluruh makalah yang sudah mendapatkan tinjauan (review) dari para penilai terkemuka di dunia akan diterbitkan dalam prosiding yang terindeks oleh Scopus.
“Kami menyadari bahwa penerbit yang terindeks Scopus kini menjadi kebutuhan bagi akademisi dan dosen di Indonesia untuk menerbitkan hasil riset mereka, untuk itu konferensi ini benar-benar kami usahakan semaksimal mungkin agar benar-benar berkualitas,” tambah Susilo BW. Kampus yang memiliki motto Tourism Development Specialist ini, juga mengarahkan mahasiswa dan para dosennya untuk semakin produktif dengan melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. "Kami mendorong kemampuan analisis para dosen agar tidak kalah dengan kampus-kampus terkemuka di Yogyakarta. Salah satu caranya adalah dengan rutin mengadakan dan mengikuti seminar dan konferensi hasil riset" urai Susilo.
Pada konferensi ICCETIM, STIEPAR API melibatkan pengelola desa wisata budaya Rajek Wetan (Sleman) dan desa wisata Nglanggeran (Gunung Kidul) untuk memperkenalkan potensi desanya. Desa wisata budaya Rajek Wetan (Dewi Rawe) menampilkan kesenian tarian tradisional Tari Mudhun Gunung dan desa wisata Nglanggeran menampilkan produk olahan makanan coklat. Brosur-brosur promosi pariwisata dari berbagai pihak di Yogyakarta juga dipersilahkan untuk diberikan kepada peserta konferensi. “Kami ingin membawa atmosfer yang tetap membumi dan seimbang dengan mengajak rekan-rekan dari desa wisata bergabung dalam acara yang bersifat akademis ini,” tandas Susilo Budi. (Iud)
