Yogyapos.com (YOGYA) - Yogyakarta adalah salah satu wilayah dimana pariwisata menjadi salah satu penggerak pembangunan. Selain dikenal dengan Kota Budaya, Kota Perjuangan, Kota Pendikan, juga Kota Pariwisata. Oleh karena itu, Yogyakarta harus menampilkan diri sebaik mungkin agar selain bisa menjadi rujukan, juga memberi manfaat bagi wisatawan dan warganya.
Itulah benang merah diskusi Civitas Akademika STIE Pariwisata API (Stiepar API) dengan jajaran Komisi B di ruang pertemuan DPRD Kota Yogyakarta, Senin (3/02/2020). Diskusi dipimpin Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro (PDIP) didampingi Wakil Ketua Oleg Yohan (Nasdem) dan Nurcahyo Nugroho (PKS). Delegasi STIEPAR API Yogyakarta dipimpin Susilo Budi Winarno SH MH didampingi tim dosen Tuti Panghastuti SE MM, Setiawan Priatmoko SET MM, Drs Anwani MSi dan Wahjudi Djaja SS MPd, dan Andyka Murti SPD MPd.
Susanto Dwi Antoro menekankan agar kalangan civitas akademika membantu mengidentifikasi dan menemukan potensi wisata yang khas Yogyakarta. "Kami berharap pembangunan dan pengembangan wisata di Yogyakarta jauh dari kesan latah apalagi sampai copy paste dari destinasi yang ada di daerah lain. Gejala ini ada dan sudah terjadi, dan kami tak ingin kecolongan,” harap pionir kampung wisata Warungboto ini. Selama ini, imbuhnya, Yogyakarta memiliki 17 kampung wisata yang bergerak meraih wisatawan dan 20 kampung wisata rintisan.
Dalam paparannya, Ketua Stiepar API Yogyakarta Susilo Budi Winarno SH MH menjelaskan peran dan kepedulian pihaknya dalam membantu pemerintah melalui beragam program pendampingan di berbagai wilayah.
"Kami consern untuk membantu masyarakat agar menjadi subjek pembangunan dan pengembangan pariwisata, jangan hanya sebagai tukang parkir atau penonton dari derap pembangunan pariwisata yang menjadi salah satu icon Kota Yogyakarta,” paparnya. Untuk itulah, sambung Setiawan Priatmoko, Stiepar API Yogyakarta membuka ruang bagi putera-puteri Yogyakarta yang ingin kuliah dan memperdalam ilmu kepariwisataan. Pemerintah Kota dimohon memperhatikan ketersediaan social space bagi warganya mengingat pada hari libur mereka telah mengalah demi kepentingan wisatawan yang datang.
Menanggapi hal itu, Oleg Yohan menyambut baik gagaasan ini. Sebab pariwisata adalah rumah besar dimana semua stakeholder bisa masuk melalui beragam program. “Kadang pemerintah telah menggelontorkan milyaran rupiah untuk pengembangan wisata, tetapi sejauh ini belum memberi kontribusi bagi peningkatan pendapatan daerah," tandasnya.
Sedangkan Nurcahyo berharap agar Stiepar API Yogyakarta membantu menggali ide agar tercipta destinasi yang murah bagi warganya. "Tahun ini kita baru memperoleh dana kelurahan. Namun sejauh ini belum terlihat peta yang jelas penggunaannya. Dengan melibatkan civitas akademika, kami berharap anggaran yang ada bisa terserap secara efektif dan optimal," pesannya. (Iud)
