Syafii Maarif : Masyarakat Indonesia Harus Sabar dalam Berdemokrasi

share on:
Buya Syafii Maarif saat menyampaikan paparannya dalam bedah buku 'Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam | YP/Affan

Yogyapos.com (YOGYA)- Jangan terlalu serius menyikapi tahun politik ini. Apalagi jika hanya karena berbeda pilihan. Toh, setiap lima tahun sekali kalau tidak cocok, ya ganti. 

Hal itu dikatakan Ahmad Syafii Maarif di sela-sela bedah buku karyanya berjudul ‘Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, di Gedung Pascasarjana UMY, Jum’at (1/3/2019). Acara ini sebagai rangkaian Milad ke-38 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). 

Syafii Maarif mengungkapkan, jelang Pilres 2019 masyarakat Indonesia diimbau untuk sabar dalam berdemokrasi,n dengan menjaga persatuan bangsa dan negara. 

Menurutnya, pemilu merupakan pesta rakyat setiap lima tahun sekali. Jangan sampai hal ini membuat negara terpecah selamanya. “Kita seharusnya juga lebih sabar menghadapi setiap isu politik,” harapnya.

Banyaknya berita hoax hingga ujaran kebencian dalam berpolitik ini mengartikan peradaban sedang merosot. Karenanya jangan terlalu serius karena demokrasi itu melatih kita untuk bersabar.

Sebagai negara demokrasi -- juga berpenduduk mayoritas muslim -- bangsa Indonesia memang dilanda cobaan yang besar pada setiap tahun politik yang dilalui. Seperti sekarang munculnya banyak ujaran kebencian melalui medsos, baik postingan maupun komentar. 

“Kondisi saat ini membuat umat Islam terpecah karena politik. Seharusnya Indonesia belajar dari sejarah besar perang saudara umat Islam yang terjadi pasca Nabi Muhammad SAW wafat," kata Syafii Maarif, yang menerangkan perang tersebut adalah Perang Unta pada 656 M.

Islam dikatakan dalam Al-Qur'an sebagai pemenang. Tapi miris kenyataannya sekarang. Sejak Nabi Muhammad SAW wafat banyak perang saudara dikarenakan haus politik kekuasaan.

Politik berkotak-kotak memecah-belah Islam. "Agama dijadikan sebagai senjata politik, menyeret Tuhan ke dalam kebencian serta politik kotor Pemilu. Ini sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan," papar Buya Syafii. 

Menyoal karyanya berjudul ‘Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam’, Syafii Maarif mengatakan, dalam buku tersebut dituangkan kegelisahannya. Juga kepeduliannya terhadap masa depan Islam di dunia.

"Curahan saya dalam buku itu adalah kegelisahan saya mengenai agama yang dipakai untuk tujuan politik," tandas Syafii Maarif.

Bagi Syafii, politik kekuasaanlah yang menjadi faktor utama mengapa Arab waktu itu mengalami kehancuran dalam mempraktikkan nilai-nilai Islam dengan membangun peradaban negara di atas mayat saudaranya. (Afn)

 

 

 

 

 


share on: