Yogyapos.com (BANTUL) - Kerusakan ekologi akibat eksploitasi kepentingan ekonomi harus segera disikapi dengan langlah nyata. Masyarakat perlu dilibatkan dan didukung perannya agar kerusakan ekologi menjadi urusan bersama. Jalur budaya dan ekonomi kreatif bisa dijadikan jalan dalam menjaga sekaligus memberdayakan potensi desa.
Demikian benang merah Sarasehan Relasi Ekologi dan Ekonomi di rumah budaya Tawang Sastro dusun Jetis Pakbapang Bantul, Minggu (2/7/2023) sore. Bertindak sebagai narasumber TA Kuncoro (Penggiat Konservasi dan Pertanian Organik serta Produsen Tahu Toelen) dan Sr. Marisa Nur Trisna (Penggiat Pendidikan Lingkungan, Pengelola Educamp Berkah Bumi Blembem Pakem) dengan moderator Imaniar Gunawan.
Dalam sambutannya Manajer Operasional Tawang Sasto, Tytiek Widyantari, menyampaikan, Tawang Sastro didirikan sebagai oase budaya agar mampu berkiprah nyata di masyarakat.
“Eyang kami Sastro Wiyarjo dulu menjadi lurah yang lokasi rumahnya ada di area ini. Tawang Sastro kami dedikasikan sebagai upaya untuk menyalakan api sejarah kembali,” tandas perempuan yang lama tinggal di Jakarta ini.
Sementara itu Kuncoro menyampaikan gejala dimana sisi ekonomi yang sering mengorbankan kelestarian ekologi. “Maka kaidah yang harus dipegang, ekologi harus diperhatikan dengan benar sehingga yang muncul sebagai salah satu solusi adalah pertanian organik,” katanya.
Sedangkan Marisa menjelaskan pentingnya empat aspek penting yang menjadi kunci kehidupan mendatang, yakni ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. “Ke empat prinsip itu harus digerakkan secara holistik agar kehidupan bisa terjaga dan berkesinambungan. Secara ekologi, lingkungan bisa terjaga. Secara ekonomi, pertanian bisa menjamin kelangsungan keluarga. Secara sosial, bisa menjaga kerukunan warga, dan secara budaya bisa mengangkat potensi yang ada,” jelasnya.
Ketua RT 01 Jetis Sumuran, Sarjimin, menyampaikan beragam potensi sejarah yang bisa diangkat. “Tak jauh dari ini ada beragam peninggalan Belanda seperti Stasiun Palbapang, perumahan Belanda, tugu, dan sumur. Kita berharap agar potensi itu bisa dikelola agar memberi manfaat kepada warga,” harapnya.
Sedangkan Kepala Dukuh Sumuran, Supiyanta, menambahkan pihaknya sangat berterima kasih kepada pengelola Tawang Sastro yang membuka jalan bagi pengembangan dusun Sumuran.
“Dalam waktu dekat kami akan menggelar merti dusun berupa kirab budaya. Masyarakat secara rutin membuat tumpeng dan ingkung sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan. Semoga dengan adanya Tawang Sastro ini langkah ke depan lebih mudah,” tandasnya.
Menanggapi hal itu Dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta, Wahjudi Djaja SS MPd membuka diri agar semua potensi bisa dikolaborasikan. Keterlibatan beberapa simpul masyarakat Palbapang untuk memakmurkan desanya bisa dilakukan dengan beragam jalan.
“Kita bisa bersinergi dengan beragam komunitas mengingat jejak sejarah di Palbapang belum banyak diketahui dan diangkat ke publik. Jika Tawang Sastro benar-benar menjadi oase budaya, maka kita bisa mengundang kehadiran tamu dan wisatawan untuk paket susur sejarah,” kata Ketua Umum Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Dimintai pendapatnya, salah satu peserta sarasehan, Maulina warga Kadirojo Palbapang, menyambut baik upaya Tawang Sastro. “Kami selaku generasi muda Palbapang mengucapkan terima kasih. Semoga manfaat kehadirannya bisa segera dirasakan warga masyarakat, sehingga memberikan dampak positif bagi pembangunan Palbapang,” ungkapnya.
Selain sarasehan kegiatan bertajuk Gelaran Cita, Karsa dan Karya juga dimeriahkan Sarasehan Prosesi Artist/Creator Era Digital dan live music yang menampilkan Untung Basuki, Ana Ratri dkk. Hadir dalam sarasehan RM Cahyo Bandhono dan tim Puri Brata serta beragam komunitas seni budaya Bantul. (Iud)
