Torres, Pelukis Dua Tangan Harumkan Yogyakarta

share on:
Torres suntuk melukis dengan menggunakan kedua tangannya || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (BANTUL) - Lantunan gendhing karawitan mengiringi tarian Panembromo Sriminulyo yang dibawakan dua penari perempuan pada pembukaan sebuah pameran bersama di Gallery Macan. Bersamaan dengan itu, di sebelah barat pintu masuk gallery seorang pelukis muda berdiri di depan kanvas, kedua tangan tampak membawa kuas. 

Seiring dengan alunan gending, kedua kuas mulai bergerak, menoreh garis dan warna pada permukaan kanvas. Alunan gending usai, tarian selesai, sempurna pula lukisan di kanvas tertoreh. Sosok seorang penari membawa  nampan kecil berisi bunga tabur terpampang di atas kanvas. Demikian pelukis cilik Torres Eguen Javas Wistara mendemontrasikan karya lukisnya saat pembukaan Pameran Cilpacastra beberapa waktu lalu.

Ada keunikan yang dilakukan Torres sebagai pelukis yakni melukis dengan kedua tangannya secara bersamaan. Ia mengawali dengan membuat sketsa lalu menyelesaikannya dengan  cepat.  Genrenya selayak anak-anak, penuh warna, bermotif nyeleneh. Begitu hidup. Torres menyukai seni jathilan. Karena itu kebanyakan lukisan Torres mengandung tema jathilan. 

“Saya suka jathilan karena jogetan dan saltonya,” ucapnya polos.

Torres berlatar lukisan karyanya || YP-Yuliantoro

Torres Equen Javas Wistara serius menekuni kegiatan melukisnya itu. Siswa kelas 6 SDN Petinggen, Jalan AM Sangaji Yogyakarta ini berhasil mengharumkan namanya hingga di kancah internasional. Ia berhasil memenangkan berbagai macam penghargaan nasional serta mengikuti pameran seni bersama para pelukis senior.

Remaja kelahiran 11 Juli 2010 ini, sudah mengantongi sekitar 400 piala kejuaraan melukis dan mewarnai. Dua dari ratusan pialanya itu didapatkan dari kejuaraan melukis Jogja-Kyoto yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Yogya bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kota Kyoto, Jepang. Karyanya dipamerkan di sana. Ada pula karya anak berumur 13 tahun ini yang dikoleksi orang Swiss serta Italy.

Kepada yogyapos.com ketika ditemui di Gallery Kopi Macan Jalan Bugisan Selatan Tegal Senggotan Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta, Jumat (26/5/23) malam, Torres menceritakan ihwal melukisnya. Ia mulai melukis sejak usia tiga tahun. Karya pertama kali lukisannya berjudul “Keluargaku”, merupakan gambar ayah, ibu, dan adiknya dengan kertas dan crayon.

“Pada awalnya melukis menggunakan crayon dan kertas. Setelah itu, menggunakan cat air. Dan sekarang sudah pakai kanvas acrylic,” ujarnya didampingi ayahnya, Gunawan Edi Santoso.

Ketertarikan melukis berawal dari seringnya diajak sang ayah, Gunawan, yang juga pelukis dan guru lukis, melihat pameran lukisan di berbagai gallery dan sanggar serta melihat orang melukis. Mulai dari melihat dan memperhatikan berbagai karya lukis, muncullah minat dan ketertarikan Torres untuk melukis. “Setelah pulang dari pameran dan melihat orang melukis, saya terus belajar menggambar. Karena saya senang. Dan itu sampai sekarang,” cerita Torres lagi.

Kini Torres yang tinggal di Desa Krebet Pajangan Bantul menjadi pelukis dan menggemari seni. Puluhan kali pameran di berbagai kota seperti Solo, Jakarta, Magelang, Jogja, Boyolali diikutinya. Ia juga pernah menggelar pameran tunggal dengan 30 karyanya di Hotel Sheraton, bulan Juli 2020 lalu. Lukisan yang paling disukai berjudul "Jogjaku" 2,5 x 1,5 m. Ia bercita-cita menjadi pelukis yang go internasional. 

Torres bersama adik dan kedua orang tuanya || YP-Yuliantoro

Sang ayah, Gunawan Edi Santoso mengatakan, dirinya tidak pernah terbersit di benaknya kalau anaknya akan menjadi pelukis. Awalnya ia ingin anaknya menjadi pemain sepak bola.  “Torres itu diambil dari nama pemain sepak bola Spanyol, karena lahir bertepatan dengan pelaksanaan piala dunia 2010. Harapan saya ya menjadi pemain sepak bola internasional,” ujar pria lulusan SMSR 1996 jurusan kriya.

Ternyata yang terjadi lain. Kebiasaan Gunawan mengajak Torres kecil melihat pameran lukisan dan seniman melukis justru menjadikan putra Evi Nursanti Prasetyaning Tiyas ini suka melukis. “Karena sering saya ajak lihat pameran maka akhirnya melukis sendiri. Dan senang. Akhirnya juga saya ajak diskusi soal lukisan, saya dampingi,” ujar Gunawan yang juga jadi guru ekstra melukis  di berbagai sekolah ini. 

Dalam dunia perlukisan, Torres juga banyak bersinggungan dengan para pelukis senior. Sisi positifnya, masih kata Gunawan, sejumlah pelukis senior menjadi kawan anaknya sekaligus mentor. Banyak pelukis seperti Klowor, Waldiyono, Totok Bukhori, dan seniman lukis lainnya menjadi idola Torres.

“Gaya melukis anak saya tidak saya paksakan, ia menemukan metode dengan menggunakan dua tangan itu sendiri. Saya juga tidak pernah memaksa anak saya untuk menjadi pelukis,” terang Gunawan. (Yuliantoro)

 


share on: