AKSI teror penembakan di Masjid Al-Noor dan Lindwood Christchurch Selandia Baru pada Jum'at, 15 Maret 2019, mungkin tak akan pernah lenyap dari benak Irfan Yunianto. Betapa tidak? Pengajar FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta ini menyatakan, aksi tersebut di luar dugaan dan sangat menegangkan.
"Alhamdulillah, waktu masuk masjid saya langsung ke ruangan sebelah yang agak kecil dekat pintu emergency exit. Jadi ketika jamaah di main prayer hall ditembaki, saya dan jamaah bisa langsung kabur ke parkiran belakang, terus kami memanjat pagar dan sembunyi di rumah orang," kisah Irfan Yunianto, Sabtu (16/3/2019) pagi.
Irfan Yunianto mengungkapkan, dirinya sudah berada di masjid sekitar 5 menit sebelum kejadian. Ketika itu ia tengah melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. "Entah kenapa hari itu tidak seperti biasanya dan saya seperti digerakkan oleh Allah SWT untuk tidak langsung ke main hall masjid, tapi ke dekat emergency exit," papar Irfan.
Setelah shalat sunnah, Irfan lantas mendengar tembakan. Ia beserta sekitar 15 orang berhasil lari keluar masjid dengan cara melompati pagar masjid untuk bersembunyi sambil terus mendengar suara tembakan. “Kami tidak berani bergerak untuk menolong meskipun melihat beberapa orang sudah tergeletak bersimbah darah. Durasi penembakan cukup lama," tandas Irfan.
Sekitar lima jam kemudian, kata Irfan, dirinya dievakuasi oleh Police. Bersamanya, ada seorang korban luka tembak di shoulder dan seorang luka-luka saat kabur. Suasana waktu itu sangat mencekam walau sudah dalam pertolongan polisi anti teror setempat.
"Saya mendengar suara tembakan sekitar 6-7 menit dengan jumlah tembakan diperkirakan ratusan," kata Irfan.
Informasi yang diterima yogyapos.com menyebutkan, ada salah seorang dosen ditugaskan oleh Humas UAD mewakili UAD untuk menelpon pak Irfan pasca serangan. Alhamdulillah yang bersangkutan mengangkat telponnya dalam keadaan yang masih shock.
Berita awal menyebutkan jika bahwa Mbak Anis anak dosen UAD, Zuchrotus Salamah dan Pak Hadi juga berada di masjid tersebut. Tapi ternyata meskipun yang bersangkutan berada di Selandia Baru, namun posisinya tidak sedang berada di masjid yang dijadikan sasaran penembakan oleh teroris. Pasca aksi teror, semua wilayah Selandia Baru kemarin dinaikkan status waspadanya dari level rendah ke tinggi.
Irfan Yunianto memohon maaf kepada yang kirim WA dan belum sempat dibalas semua. "Karena banyak sekali dan saya dahulukan yang paling mendesak untuk dibalas, yakni keluarga dan pihak KBRI," kata Irfan.
Sementara hingga kini masih ada satu WNI dan sesepuh di sana yang bernama pak Lilik, yang masih belum ada kabar sampai.
“Sampai kemarin Christchurch masih terisolasi karena bandara ditutup (lockdown). Semua penerbangan ke Christchurch dibatalkan termasuk tim KBRI yang masih tertahan dan baru bisa ke sana hari ini, Sabtu (16/3/2019),” jelas Irfan. (Affan)
