Tutup Usia, Jenazah Prof Yunahar Ilyas Dimakamkan di Dekat Pusara KH Ahmad Dahlan

share on:
Jenazah Prof Yunahar Ilyas disalatkan di Masjid Gedhe Kauman, sesaat sebelum dimakamkan || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) - Dalam rentang waktu yang hampir berdekatan, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kehilangan dua tokoh panutannya. Pertama, Prof Bahtiar Effendi yang meninggal sebulan lalu. Kedua, kabar tutup usianya Prof Dr KH Yunahar Ilyas Lc MAg pada Kamis 2 Januari pukul 23.45 di RSUP Dr Sardjito. Guru Besar Fakultas Agama Islam UMY ini meninggal di usia 63 tahun.

Jenazah sejak subuh sudah disemayamkam di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro Yogya. Kemudian pada siang hari dibawa ke  Masjid Gedhe Kauman untuk disalatkan bersama dan dikebumikan di Pemakaman Karangkajen, Yogyakarta yang juga tempat dimakamkannya pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Almarhum Wakil Ketua MUI ini dirawat intensif karena mengalami gagal ginjal akibat diabetes melitus. Kondisi sakit tersebut membuat almarhum tiap sepekan sekali harus cuci darah.

Prof Dr Yunahar Ilyas LC lahir pada 22 September 1956 di Bukittinggi, menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1986. 

Menamatkan pendidikan dasar di Padang, dua gelar S1 diperoleh di Fakultas Usluhuddin Universitas Ibnu Riyadh (1983) dan Fak. Tarbuyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984. S2 dan S3 diselesaikan di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1996 dan 2004.

Selama bermuhammadiyah, pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Diluar muhammadiyah, tercatat sebagai salah satu unsur ketua di Majelis Ulama Indonesia Pusat. Sehari-hari, bekerja sebagai Dosen/Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 1987.

Ketum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir disela melayat di kantor PP Muhammadiyah mengatakan, keluarga besar Muhammadiyah sangat kehilangan atas wafatnya almarhum. "Beliau sosok ulama yang mengajarkan pemahaman Al Quran, tak hanya berdasarkan teks, tapi juga realitas kehidupan sehingga yang diajarkan selalu menjadi obor semangat bagi umat," ujar Haedar, Jumat (3/1/20190).

Sementara dimata Buya Syafii Ma’arif, sosok almarhum adalah pribadi yang alim. Tidak pernah mau istirahat. Dalam keadaan sakit pun mendiang masih sibuk bekerja dan berdakwah. “Yunahar adalah Kyai yang mengajar tafsir dan produktif menulis sejumlah buku. Dalam konsep berdakwahnya, Yunahar mengusung Islam yang tengah. Yakni Islam Wasathiyah, yang mempunyai artian non blok. Tidak ke kanan, tidak juga ke kiri. Namun berada di tengah, menjadi wasit terhadap peradaban di Indonesia. Banyak kenangan saya dengan almarhum,” ujar Buya Syafii.

Melalui akun medsosnya, Menko Polhukam Mahfud MD mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Prof Yunahar Ilyas. "Innalilahi wa innailaihi rojiun, bertakziah wafatnya Profesor Yunahar Ilyas. Almarhum adalaha tokoh ulama Indonesia. Mudah-mudahan Allah memberi jalan dan tempat yang baik dalam perjalanannya menuju ke haribaan-Nya,” ungkap Mahfud MD. 

Sedangkan Sekjen MUI Anwar Abbas menyebut jika almarhum merupakan figur yang selalu menghadirkan sesuatu hal baru dalam setiap topik ceramahnya. “Ceramah beliau betul-betul menarik sehingga membuat suasana masjid itu dinamis dan semarak sehingga merangsang orang untuk datang. Mendiang memiliki peran dan andil yang sangat besar bagi MUI. Almarhum juga acapkali memberikan masukan kepada KH Ma’ruf Amin. Sosoknya sangat toleran, membawa Islam yang sejuk, sehingga persatuan dan kesatuan bisa tercipta,” pungkas Anwar Abbas.  (Dol/Met)

 

 

 

 


share on: