16-19 Juli 'Ngakak Gojekan Subro-Tribute to FX Subroto' di Museum Borobudur

share on:
Diskusi kartun mengulik kreativitas kartunis FX Subroto mengawali pameran kartun 'Ngakak Gojekan Subro - Tribute to FX Subroto' di Museum Borobudur, Sabtu (16/7/2022) || YP-Ist

Yogyapos.com (MAGELANG) – Mengenang kartunis kesohor FX Subroto, Paguyuban Kartun Yogyakarta (Pakyo) menggelar Pameran Kartun bertajuk ‘Ngakak Gojekan Subro - Tribute to FX Subroto’, pada 16-19 Juli 2022, di Museum Borobudur.

Kabidbin Gakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi selaku pemantik pameran ini bersama Kampoeng Semar-nya. 

Chryshnanda merealisasi perhelatan ini berharap, pameran bukan sekadar memamerkan karya FX Subroto, tetapi bagaimana ini menjadi literasi yang merekam sejarah kesenian khususnya kartun sehingga memberi banyak manfaat bagi semua orang.

Karya FX Subroto || YP-Ist

“Saya secara pribadi tidak kenal dengan Pak Subro, tetapi dari SD saya sudah kenal dengan karya beliau. Saya kemudian berpikiran untuk melakukan sesuatu selain mencari dokumentasi karya-karyanya yang kemudian bosa dipamerkan ini juga mendokumentasikannya dalam bentuk buku,” cerita Chryshnanda saat membuka bincang-bincang dalam pembukaan pameran, Sabtu (16/7/2022).

Dijelaskan Chryshnanda, persiapan untuk pameran dan merealisasikan dalam bentuk buku berjudul ‘Gojek Kere Ala Subro’ memang terbilang dadakan karena pada saat proses ini sedang berjalan, FX Subroto dalam kondisi terbaring sakit.

“Bahkan saat pameran ini digelar di Balai Budaya Jakarta beberapa waktu lalu, buku ini belum jadi. Dan sekarang pun buku ini masih dalam bentuk dami yang diharapkan dalam waktu dekat bisa selesai dan menjadi literasi yang memberi manfaat bagi bagian dari sejarah kartun di Indonesia,” ujar Chryshnanda.

Sementara itu, Ketua Federasi Kartunis Indonesia (Pakarti), Agoes Jumianto dalam kesempatan yang sama mengatakan, sosok Pak Subro menjadi seorang guru bagi kartunis khususnya di Yogyakarta dan Indonesia pada umummya.

“Meski dalam kesehariannya Pak Subro ini lebih berpenampilan serius dan tak bisa melucu, tetapi kelucuannya itu justru sangat kuat ditunjukkan dalam karya-karyanya. Lucunya hanya di atas kertas,” ungkap Agoes.

Kartunis Praba Pangripta menyebut, Pak Subro berhasil mengangkat isu-isu rakyat bawah, kaum marjinal. Ternyata sindiran itu tidak hanya untuk para penguasa tetapi juga kaum marginal seperti kita.

“Nilai-nilai humor yang ditampilkan Pak Subro sangat terjaga dan nggemeske. Satu yang saya ingat saat saya bertanya kepada Pak Subro soal kiat mencari ide-ide kelucuannya, jawabannya cuma ada satu resep yaitu jeglekke suatu masalah,” ujar Praba.

Mengingatkan kembali bahwa FX Subroto adalah salah satu kartunis legendaris Indonesia yang lahir dan tumbuh menjadi sosok kartunis disegani, terlebih di Yogyakarta yang ditandai dengan kelahiran komunitas kartunis tertua di Indonesia, Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta).

Karya FX Subroto || YP-Ist

Ia salah satu pendiri Pakyo yang dibentuk pada 5 Desember 1979 dengan penanda sebuah pameran kartun pertama di Yogyakarta dan juga di Indonesia. Kartunis andal ini meninggal dunia pada Sabtu, 18 Juni 2022 lalu, sudah memberikan banyak jejak sejarah dalam karyanya selama ini. 

Subro, demikian biasa disapa dan menjadi inisial namanya dalam karya yang dibuat tak pernah henti untuk terus berkarya hingga akhir hayatnya. 

Sejumlah media cetak tanah air bahkan sudah memberinya ruang untuk memuntahkan kelucuan-kelucuan yang ia buat dalam bentuk gambar kartun. Bukan hanya media lokal yang terbit di Yogyakarta seperti Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, ataupun Majalah Berbahasa Jawa Djaka Lodang, pun koran sore yang terbit di Semarang, Wawasan. Tetapi juga koran nasional terbitan Jakarta seperti Suara Pembaruan.

Sekalipun beberapa media yang disebut diatas sudah almarhum alias tidak terbit lagi, Subro terus menggambar kelucuan. Kartun-kartunya banyak bermunculan di sejumlah terbitan media, seusai dirinya pensiun sebagai Redaktur di Djaka Lodang.

Karya-karyanya memang terbilang sederhana dalam goresan. Tetapi justru dengan kesederhanaannya itu, Subro mampu mengungkap kelucuan yang bukan sekadar lucu tetapi sarat pesan dan juga kritik yang dikemas sedemikian khas ala Subro sendiri.

Dalam karyanya subro punya gaya tersendiri dan sangat khas. Ia bahkan tak terpengaruh oleh gaya atawa style di luaran yang terus berkembang sesuai zamannya. Meski begitu karyanya tetap cerdas, berisi, dan lucu.

Kini FX Subroto memang telah tiada, namun melalui pameran bertajuk ‘Ngakak Gojekan Subro - Tribute to FX Subroto’ yang digagas Kampoeng Semar bersama Federasi Kartunis Indonesia (Pakarti), dan didukung Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo), TWC Borobudur, Balai Budaya Jakarta, Rumah Gagas Creative, dan Boggo, kelucuan itu masih bisa kita nikmati.

Agoes Jumianto, salah satu pengurus Pakyo menggoreskan kreativiasnya on the spot sosok FX Subroto || YP-Ist

Pembukaan pameran ditandai dengan menggoreskan spidol di atas kertas oleh Chryshnanda Dwilaksana membentuk karakter wajah, dilanjutkan Ketua Pakarti, Agoes Jumianto, dan sejumlah kartunis yang hadir, dari PAKYO diantaranya Praba Pangripta, Alex Pra, Dedok, Priyo Puji R, dan Yehana SR dari SECAC (Semarang Cartoon Club), dan Yere Agusto (Balica).

Di tengah pameran yang sedang berlangsung juga diisi dengan demo karikatur wajah bagi pengunjung pameran yang dipandegani kartunis Poejiyanto dan I Made Arya Dwita Dedok.

Momen ini tentu menjadi bumbu yang tak kalah menarik dan sekaligus menghibur bagi pengunjung pameran yang ingin wajahnya dipletotkan dalam bentuk karikatur. (*/Met)

 

 

 

 


share on: