Yogyapos.com (BANTUL) - Tujuh belas perupa senior menggelar pameran seni rupa bertajuk Sandyakala Ning Nagari (Pameran Reunion #2) di Kopi Macan, Sabtu (11/2/2023). Acara yang dibuka oleh Fenty Yusdayati, Kepala Bappeda Bantul akan berlangsung hingga 19 Februari 2023.
Ketujuh belas perupa tersebut Watie Respati, Yusman, Godod Sutejo, Subandi Giyanto, Mangkok Sugiyanto, Ansori Mozaik, Kawit Tristanto, Subroto sm, Suhardi, Afrial Arshad Hakim, Cun Ebeg Mayong, Indarin Sumiyati Herman, Nanang Sato, Ida Ratnaningrum, Nurata, R Abbas Jasa.
Hadjar Pamadhi, penulis katalog, menjelaskan bahwa Sandyakala Ning Nagari merupakan ekspresi kolegial para seniman senior yang mengharapkan perubahan masa tetap memberikan harapan psikologis dan ekonomis yang dapat dimanfaatkan untuk mengekspresikan kembali ide dan gagasan yang mereka punya.
Perupa Watie Respati (kiri) dan Kepala Bapeda Bantul Fenty Yusdayanti || YP-Yuliantoro
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-musibah-tak-halangi-watie-respati-melukis-9316
Pada bahasa Sansekerta, jelas dia, Sandyakala merupakan pertemuan atau perubahan waktu dari sore menuju malam hari. Dapat juga dimaknai sebagai pergantian waktu (terang-gelap) atau peralihan kekuatan (baik-buruk).
“Ada mitos senja adalah waktu munculnya roh halus. Yang pasti, senja yang sering kali menghasilkan warna jingga, merah, dan violet, merupakan tata warna atau adiwarna yang sangat indah sebagai estetika langit,” tuturnya.
Bila dikaitkan dengan politik kenegaraan, Pamadhi mengatakan Sandyakala Ning Nagari merupakan penanda perubahan masa pemerintahan, pemerintahan lama menuju kepemimpinan baru atau perubahan peradaban lama menjadi peradaban baru.
“Ekspresi artistik estetik para perupa dalam pameran ini merupakan hasil interpretasi mereka terhadap senja politik sosial budaya maupun dirinya sendiri ketika mengalami pergantian masa ini. Karena itu sebagian mengangkat objek material berupa tata surya, perangai manusia, maupun situasi sosial kemasyarakatan. Sedang objek formal mengangkat pikiran dan perasaan terhadap dampak sosial, budaya, ke pemerintahan, serta hasil imajinasi sesuai dengan gagasan yang mendasarinya,” terangnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-seniman-mural-sejawa-ikuti-kompetisi-di-stay-lounge-resto-9687
Pengembaraan batin para seniman menghasilkan figur dua dimensi maupun tiga dimensi yang dapat dipandang dalam tiga visi ekspresi berkarya yaitu memprediksi terjadinya peristiwa dengan representasi visual para tokoh masyarakat, figur bangunan khusus, figur bangunan umum, yang semua itu digambarkan akan terjadi keruntuhan namun di sisi lain sekaligus menjadikan bangunan menjadi semakin kokoh.
Gaya bersahaja perupa senior || YP-Yuliantoro
Hadjar Pamadhi juga berpandangan bahwa ekspresificial visual Sandyakala Ning Nagari bisa diterjemahkan dalam tiga tajuk. Pertama adalah ranah epitome atau model peradaban yang ditandai dengan kekinian karya yang disesuaikan dengan perspektif kontemporer Wati Respati mengekspresikan perubahan masa diri dengan simbol persemaian tanaman dengan gerakan ekspresifnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-jpw-dukung-penegak-hukum-tindak-tegas-pelaku-klitih-9688
Kedua, penguatan tradisi sebagai kebiasaan seseorang hidup di lingkungannya dan terasa suasana estetika klasik maupun tradisi yang melatari penciptaan. Subandi Giyanto mengangkat visi tatapan personal ke masa dan peristiwa yang akan datang.
Ketiga, penguatan eksotika dalam dalam suasana modernitas. Yusman menampilkan patung realis sebagai penanda idealismenya sebagai seorang artis dan berakhirnya fase sebagai seorang pemimpin. (Tor)
