Yogyapos.com (YOGYA) - Sebanyak 20 mahasiswa Fotografi ISI Surakarta melakukan studi wawasan budaya dengan mengunjungi Museum Diorama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta.
Kunjungan ke museum ini merupakan salah satu kegiatan mata kuliah Wawasan Budaya Nusantara dengan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yaitu mahasiswa memiliki wawasan keanekaragam budaya Nusantara, serta memiliki wacana untuk melestarikan budaya melalui bidang yang diminati yaitu fotografi.
Kristina Novi Susanti SSn MSn sebagai Dosen Pengampu Mata Kuliah mengatakan, Museum diorama merupakan salah satu program DPAD Yogyakarta yang tidak hanya menampilkan arsip-arsip sejarah dan peristiwa dari aktivitas masyarakat, melainkan juga membuat visualisasi arsip.
“Kami ajak para mahasiswa melakukan studi luar kampus, antara lain kesini agar terbuka wawasan budayanya,” ujar Kristina didampingi dan Agus Heru Setiawan SSn MA selaku Ketua Program Studi Fotografi, Selasa (29/3/2022).
Disebutkan, visualisasi arsip ini kemudian ditampikan menjadi karya-karya seni mulai dari karya seni lukis, grafis, desain komunikasi visual, fotografi hingga video mapping yang di display secara permanen dalam ruangan tertutup dan dilengkapi dengan tata cahaya, tata ruang serta tata suara yang bagus. Museum diorama secara keseluruhan menampilkan Sejarah berdirinya Yogyakarta hingga Masa Keistimewaan.
Museum ini terdiri dari 18 ruang yang menampikan peristiwa di Yogyakarta, antara lain Ruang 1 dan ruang 2, Kebangkitan dan Kejayaan Mataram; Ruang 3, Prahara Mataram dan Intervensi VOC; Ruang 4, Kasultanan Yogyakarta; Ruang 5, Geger Sepehi; Ruang 6 dan ruang 7, Puro Pakualaman; Ruang 8, Lokomotif Perubahan; Ruang 9, Kebangkitan Elit-elit Lokal; Ruang 10, Pembangunan Selokan Mataram; Ruang 11, Yogyakarta Ibu Kota Revolusi; Ruang 12, Penataan Pemerintahan Yogyakarta; Ruang 13 dan ruang 14, Yogyakarta Kota Pendidikan; Ruang 15, Yogyakarta Kota Pariwisata; Ruang 16, Pasowanan Ageng; Ruang 17 Yogyakarta dan Kebencanaan; Ruang 18, Keistimewaan Yogyakarta.
Secara keseluruhan museum ini kemudian dikemas menjadi sebuah atraksi wisata edukasi yang sangat menarik dan cocok untuk semua generasi. Proses replikasi dan visualisasi arsip ini bertujuan agar aktivitas masyarakat terdahulu dan keanekaragam budaya serta pesan pesan masa lalu dari para orang terdahulu bisa sampai ke generasi masa kini.
Dalam pembuatan museum, DPAD melibatkan beberapa sejarawan, seniman, budayawan di Yogyakarta dan pengumpulan arsip yang sudah berada di luar negeri seperti Belanda dan Inggris. DPAD juga melibatkan para mahasiswa untuk melakukan magang sebagai tenaga pemandu pengunjung museum.
Menurut Kristina, kunjungan yang dilaksanakan pada Minggu, 27 Maret 2022 ini diharapkan dapat menjadi media pemantik bagi para mahasiswa Prodi Fotografi, ISI Surakarta untuk menciptakan ide-ide karya foto yang kreatif dan atistik namun tetap membawa esensi nila-nilai dan gagasan lokal sehingga bisa menjadi salah satu media pelestarian budaya Nusantara.
Sedangkan Agus Heru Setiawan SSn MA sebagai Kaprodi Fotografi menjelaskan, tujuan lain kegiatan ini juga diharapkan bisa menjadi media untuk menjalin relasi antar lembaga yakni lembaga pendidikan seni dengan lembaga kearsipan sebagai salah satu upaya perwujudan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (*)
