Yogyapos.com (BANTUL) - Semasa hidupnya Bang Azwar AN tak memiliki utang dan kesalahan kepada kita. Beliau memiliki husnul hayat, hidup yang baik sehingga pasti berhak memiliki husnul khatimah atau akhir yang baik. Kitalah yang banyak memiliki utang kepada beliau. Berapa ratus orang yang berhasil beliau didik menjadi seniman, menjadi orang besar, yang kini bertebaran di penjuru Nusantara.
Demikian intisari sambutan Emha Ainun Najib mewakili seniman, budayawan dan sastrawan saat melepas kepergian tokoh teater dan perfilman, Azwar AN di rumahnya Perumahan Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Senin (27/12/2021).
Azwar AN lahir di Palembang Sumsel pada 6 Agustus tahun 1937 dengan nama Adhikrama Azwar AN. Masuk Yogyakarta pada 1962 dan bersama Bakdi Sumanto serta Moortri Purnomo mendirikan Bengkel Teater pada 1967. Keluar dari Bengkel Teater Azwar AN pada 4 Januari 1972, membentuk Teater Alam.
“Jadi meskipun beliau tidak termasuk 10 besar seniman besar Yogyakarta sebagaimana saya browsing di internet dan media sosial, Bang Azwar AN bagi saya adalah orang besar. Beliau adalah wong agung secara budaya dan manusia mulia secara agama,” tandas Cak Nun.
Cak Nun yang mengawali sambutannya dengan melantunkan Alquran surat Al-Fajr ayat 27-30 dengan indah mengakui amat merasakan kasih sayang Bang Azwar AN. “Saya pertama kali menerima honor menulis sebesar Rp 125 dari beliau yang saat itu mengasuh rubrik sebuah koran yang kantornya di dekat Masjid Besar. Dan terakhir saya bertemu beliau pada bulan Nopember kemarin dalam kondisi yang amat sehat,” paparnya.
Saat itu, lanjut Cak Nun, dirinya memenuhi janji 40 tahun yang lalu dimana beliau minta untuk dibuatkan naskah. “Insya Allah naskah yang berjudul 'Nglungsungi' akan dipentaskan Maret 2022 oleh seluruh seniman, budayawan, teaterawan Yogyakarta tanpa memandang ideologi, kelompok, dan latar belakang,” lanjutnya.
Di tempat yang sama, sutradara Jujuk Prabowo yang dipercaya Cak Nun untuk menjadi sutradara pementasan "Nglungsungi" menyampaikan gagasan naskah itu adalah harapan agar manusia dan bangsa ini bisa berubah ke arah yang lebih baik. "Yang nglungsungi itu bukan hanya ular, kita pun juga harus bermetamorfosa atau berubah menjadi lebih baik, maju dan beradab", jawabnya saat ditanya yogyapos.com.
Sementara itu, Lurah Wirokerten Hj Rahma Wijayaningrum SE dalam sambutannya menyampaikan almarhum Azwar AN adalah tokoh yang bersahaja dan hangat dalam bermasyarakat. “Beliau amat berjasa dalam membangun masjid di Wirokerten. Atas nama pemerintah Kelurahan Wirokerten, kami sangat berduka,” paparnya.
Hadir saat melepas kepergian Azwar AN segenap keluarga besar Teater Alam, Bengkel Teater Yogyakarta, para seniman, sastrawan dan budayawan. Dalam kesempatan itu Lurah Wirokerten memberikan akta kematian untuk keluarga Azwar AN. (Iud)
