Damparan RMI PW NU DIY ke-7, Hadirkan Alissa Wahid Bahas Masa Depan Pesantren

share on:
Alissa Wahid di depan peserta Forum Damparan, di Gedung Qo’ah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman || YP-Markaban Anwar

Yogyapos.com (SLEMAN) - Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Forum Silaturahmi Kyai dan Bu Nyai Pengasuh Pesantren NU se-DIY.

Forum yang dikenal dengan nama Damparan RMI ini telah memasuki edisi ke-7, berlangsung 16 Agustus 2025, di Gedung Qo’ah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman.

BACA JUGA: GREAT Institute Apresiasi Prabowo, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Pertumbuhan

Mengusung tema “Pesantren Maju Bersama, dengan Rohmah dan Amanah”, Damparan RMI menjadi ruang silaturahmi sekaligus wadah bertukar gagasan para pengasuh pesantren. Forum ini membahas berbagai problematika, mulai dari tantangan pendidikan dan sosial hingga strategi pengembangan pesantren agar dapat maju bersama menghadapi perubahan zaman.

BACA JUGA: PN Sleman Kabulkan Praperadilan, Advokat Chrisna Harimurti Apresiasi

Salah satu narasumber, Alissa Wahid, turut mengingatkan kembali tentang peran besar KH Wahid Hasyim sebagai pembaharu kurikulum pesantren pada zamannya. Ia menuturkan bahwa pada tahun 1935, KH Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nidhamiyah di Pesantren Tebuireng Jombang, sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga pelajaran umum.

Meski awalnya sempat ditentang oleh KH Hasyim Asy’ari, gagasan tersebut akhirnya diterima karena dinilai relevan dengan kebutuhan zaman. “KH Wahid Hasyim beralasan, tidak semua santri akan menjadi kyai. Maka mereka harus dibekali ilmu umum agar tetap bermanfaat ketika kembali ke masyarakat,” tutur Alissa.

BACA JUGA: Dua Remaja Jadi Korban Pembacokan di Palbapang

Gagasan visioner itu kemudian mengangkat status Tebuireng sebagai pesantren yang tidak hanya melahirkan ulama fasih dalam ilmu agama, tetapi juga tokoh yang mampu berbicara tentang persoalan non-agama yang dibutuhkan masyarakat luas.

 Menurut Alissa, dalam konteks kekinian pesantren harus mampu beradaptasi agar tetap relevan dan menjadi pilihan masyarakat. Santri tidak cukup hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga pengetahuan lain sebagai modal menghadapi realitas sosial.

“Pesantren harus ramah terhadap sains dan teknologi. Jika tidak, pesantren akan dipandang kolot dan ketinggalan zaman,” tegasnya.

BACA JUGA: Polres Bantul Rotasi Sejumlah PJU, Kasi Humas Iptu R Hidayanto

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu menambahkan, dibutuhkan sosok kiai progresif yang terbuka terhadap temuan-temuan modern dan mampu memanfaatkannya untuk kepentingan pendidikan santri. Dengan langkah tersebut, pesantren diyakini akan tetap relevan, tidak hanya sebagai pusat pengajaran agama, tetapi juga sebagai institusi yang melahirkan kader bangsa yang siap menghadapi tantangan era digital. (Markaban Anwar)

 


share on: