Dari Pameran Arsip: 8 Pabrik Gula Pernah Beroperasi di Bantul

share on:
Salah satu suudut ruang pameran arsip parbrik gula di Bantul || YP-Mufti

Yogyapos.com (BANTUL) - Siapa menyangka bahwa Bantul masa silam memiliki delapan pabrik gula yang pernah beroperasi. Sebagian besar masyarakat kurang mengetahui keberadaan pabrik-pabrik gula di Bantul mengingat terbatasnya arsip atau catatan sejarah. Mulai kapan tahun berdirinya, bagaimana para pekerjanya, dan mengapa pabrik gula sampai lenyap tak berbekas.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bantul, Drs Eddy Susanto, Rabu (9/9/2020), mengungkapkan arsip merupakan saksi bisu yang menunjukkan keberhasilan, kegagalan, perkembangan, dan kejayaan bangsa. Arsip juga menjadi bukti otentik adanya bangunan, aktivitas, ataupun peninggalan-peninggalan lainnya di masa lalu, seperti pabrik gula. Masyarakat tahunya hanya Pabrik Gula Madukismo di Tirtonirmolo, Kasihan.

“Satu-satunya petunjuk mengenai keberadaan pabrik gula di Bantul hanyalah berupa arsip dokumentasi foto peninggalan Hindia Belanda,” ujar Eddy saat membuka pameran arsip bertajuk ‘Pabrik Gula di Bantul Riwayatmu Dulu’ yang berlangsung di Pendopo Ruang Terbuka Gedung Perpustakaan Daerah, Jalan Jenderal Sudirman Bantul.

Eddy menyatakan, pihaknya menggelar pameran arsip untuk memperlihatkan bukti kejayaan pabrik gula di Bantul sebelum masa kemerdekaan. Pameran menyajikan berbagai foto bentuk bangunan, lokasi, daftar karyawan pabrik, dan lain-lain terkait pabrik gula tempo dulu. Dari situlah generasi muda dapat menangkap kesan masa lalu Bantul.

“Kami berharap adanya pameran arsip ini bisa memberikan wawasan bagi generasi masa kini, di samping sebagai pembanding antara Bantul dulu dengan Bantul sekarang,” ucapnya.

Pembukaan pameran secara terbatas dihadiri para pejabat struktural, fungsional, beserta seluruh karyawan Dispusip Bantul. Hadir pula perwakilan dari Bank BPD DIY dan perwakilan PT Madubaru PG-PS Madukismo.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pelayanan Dispusip, Dra Suprihastuti MM, melaporkan pameran arsip sedianya diselenggarakan Maret lalu. Karena kondisi sedang merebak wabah Corona dan ada larangan Pemerintah mengadakan berbagai kegiatan, pameran pun ditunda.

“Alhamdulillah, terlaksana juga akhirnya. Pameran arsip kami gelar selama 2 hari, Rabu dan Kamis, 9-10 September 2020. Baik panitia maupun pengunjungnya wajib mematuhi protokol kesehatan,” kata Suprihastuti selaku Ketua Penyelenggara Pameran.

Menurut informasi yang dihimpun yogyapos.com, di Yogyakarta dahulu terdapat 17 pabrik gula, delapan diantaranya berada di wilayah Bantul. Sekitar tahun 1870, Pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan Agrarische Wet. Kebijakan tersebut membuka peluang bagi pengusaha swasta mengembangkan usahanya sampai ke Hindia Belanda dalam bentuk perkebunan.

Perkebunan berorientasi pada tanaman ekspor seperti kopi, teh, kina, tembakau, dan tebu. Waktu itu harga gula di pasaran dunia sedang bagus sehingga dibukalah perkebunan tebu sekaligus pabrik gulanya (Suiker Fabriek), termasuk di wilayah Bantul. Berdasarkan catatan dan dokumentasi foto, pabrik gula di Bantul yang pernah berproduksi adalah Pabrik Gula (PG) Bantool, PG Barongan, PG Gesiekan, PG Gondanglipoero, PG Kedaton Pleret, PG Padokan, PG Poendoeng, dan PG Sedajoe.

Beberapa pabrik gula sempat dialihfungsikan sebagai rumah tahanan (kamp internir). Salah satunya PG Poendoeng digunakan untuk menahan orang-orang sipil Belanda pada masa pendudukan Jepang. Sebagian sisa-sisa kejayaan yang masih dapat dilihat berupa puing-puing bekas bangunannya saja. Hal itu disebabkan kedelapan pabrik gula sempat dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan dengan tujuan agar Belanda tidak menduduki kembali Yogyakarta. (Muf)

 

 

 

 

 


share on: