Edy Winarya Apresiasi dan Dorong Penulisan Buku Toponimi Padukuhan Tahap II

share on:
9Kadisbud Sleman Edy Winarya (tengah) membuka Workshop Penulisan Buku Toponimi II didampingi Budi Sardjono (kanan) dan Kabid Sejarah Bahasa dan Permuseuman Disbud Sleman, Anas Mubakkir (kiri) || YP-R SugihartoToto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Penulisan dan penerbitan buku Toponimi Padukuhan di Kabupaten Sleman mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Buku tersebut menjadi kebanggaan warga dan jajaran pimpinan pemerintahan Kabupaten Sleman dan dijadikan cenderama tabagi pejabat yang berkunjung ataupun ketika jajaran pejabat Sleman mengunjungi pemerintah daerah lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman Edy Winarya SSn MSi pun mendorong dilanjutkannya program penulisan dan penerbitan buku Toponimi yang kedua tahun 2023.

Hal itu disampaikan Edy Winarya saat memberikan sambutan dan membuka Workshop Penulisan Buku (Asal-Usul Penamaan Padukuhan), Kamis (9/3/2023) pagi di restoran Pringsewu, Sleman, DIY.

Pada penerbitan buku Toponimi yang pertama dengan sub judul Tapak Pangeran di Bumi Merapi terungkap pusat latar cerita yang mayoritas dilatarbelakangi sejarah Majapahit akhir, Mataram Surakarta dan Yogyakarta dengan varian episode Bedhah Ngayogyakarta pada Perang Sepoy (1812) serta Perang Jawa (1825-1830). Selain itu, terdapat pula nama-nama padukuhan yang berasal dari nama tanaman. Buku tersebut memuat 30 nama padukuhan di Kabupaten Sleman.

“Buku pertama telah mendapatkan apresiasi luar biasa dari Pemprov DIY. Hasil buku tahap satu ada koordinasi untuk jadi cenderamata karena cerita toponimi ini ilmu yang mempelajari latar belakang nama. Demikian juga darijumlah total sebanyak 1.212 padukuhan pasti ada latar belakang dinamakan dengan nama tertentu. Ini yang memuat nilai sejarah. Artinya, para penulis sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Selain menulis yang baik diimplementasikan, juga belajar sejarah terjadinya nama-nama,” urai Edy.

Karenanya, Edy mendorong para peserta workshop berjumlah 30 penulis, dengan latar belakang kompetensi sebagai guru, jurnalis, pegiat LSM untuk mengembangkan kemampuan masing-masing agar produk buku tahap kedua lebih baik lagi.

“Setelah program inisukses, pasti muncul program baru. Entah sandiwara radio, cerita kethoprak. Bahkan, bisa jadi materi dagelan Mataram baru. Disbud wajib menggali hal seperti ini sehingga menjadi referensi dan bersejarah untuk 20-30 tahun yang akan datang. Saya sangat apresiasi pada tim. Ini jadi bagian sangat penting untuk bahan referensi. Harapan untuk buku tahap kedua, lebih baik dan lebih bermanfaat,” lanjutnya.

Salah satu narasumber, Budi Sardjono mengisahkan pengalaman memulai menulis cerita dengan latar belakang sejarah Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Sambernyawa dan menjadi Adipati Mangkunegoro di Surakarta. Penulisan dimulai dari mengeksplorasi nama Geneng di Wonogiri, Jawa Tengah. Ia juga mengisahkan penulisan novel biografisnya, Selendang Kilisuci yang diawali dari nama sebuah kampung tempat tinggal narasumber atau kliennya, Singonegaran di Kediri.

“Nama padukuhan pun bisa berasal dari nama manusia, tokoh pejuang atau kerabat kerajaan. Sebagai contoh, padukuhan Gejayan yang berasal dari Anggajaya, salah satu putra Sultan Hamengku Buwono II yang sudahditulis di buku Toponimi pertama,” beber Budi mempresentasikan materi workshop bertajuk ‘Meracik Cerita Sejarah dari sebuah Nama’.

Dua narasumber yang juga mengilustrasikan masalah teknis, yakni Sutopo Sugihartono, dengan materi berjudul ‘Teknik Menulis Cerita Sejarah Asal-Usul Padukuhan dan Teknik memotret dari Latief Noor Rochmans,redaktur Minggu Pagi, dengan topik ‘Foto Jurnalistik yang Menggelitik’. (R Toto Sugiharto)

 

 


share on: