FKPPBN Imbau Hilangkan Satu Kata dalam Lagu 'Nemen' Karena Tak Sesuai Kearifan Lokal

share on:
Arya kamandanu (tengah) bersama Ketua FKPPBN Diyah Yuliana Kentjanawatty, Itut Bambang (Ketua BPD Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia, KKI), Sutanti (Ketua KKI Sleman) || YP-Ismet NM Haris

Yogyapos.com (YOGYA) – Risih dengan lagu berbahasa jawa berjudul Nemen terdapat kosa kata A** (konotasi misuh negatif, red) yang dibawakan Gilga Sahid, Forum Komunikasi Perempuan Pelestari Budaya Nusantara (FKPPBN) Yogyakarta melancarkan pernyataan sikap dan mengimbau agar kosa kata tersebut dihilangkan.

“Kami sebagai penggiat Pelestari Budaya Nusantara dan secara tidak langsung sebagai orang tua dari anak-anak generasi muda nusantara , sangat keberatan dan memberikan peringatan tegas atas lagu ‘Nemen’ versi dengan umpatan atau misuh yang dibawakan oleh Gilga Sahid, karena hal tersebut dalam budaya jawa (karena lagu tersebut menggunakan lirik bahasa jawa) adalah hal yang tidak unggah-ungguh, tidak subasita, kurang tatakrama dan tidak sopan santun, tidak sesuai dengan norma-norma kearifan lokal,” tegas Penggagas dan Pencetus FKPBBN Arya Kamandanu, di sela-sela acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan RI yang digelar FKPBBN, di Omah Kopi Cokrowijayan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Sabtu (26/8/2023).

Arya mengapresiasi kreativitas berkarya. Namun sangat disayangkan di sela lirik lagu Pop Jawa Koplo itu ada penggalan kata dengan umpatan yang justru banyak ditirukan generasi muda dengan mencover lagu dan memviralkan lagu tersebut dan memberikan tekanan khusus pada umpatan diatas, salah satunya di akun IG 

Apalagi, lanjut Arya, dalam unggahan salah satu video konser Gilga Sahid yang ada di Youtube oleh kanal akun Kaset Digital berjudul Live Paling Ambyar Gilga Sahid, dalam video tersebut terlihat satu hal yang sangat memprihatinkan dan miris ketika hampir seluruh penonton diajak untuk misuh/mengumpat bersama-sama, ini merusak moral, akhlak dan budi pekerti. Sehingga tidak bisa dibiarkan.

Kami sebagai orangtua, ibu-ibu dari anak-anak remaja keberatan dan berharap penyanyi aslinya bisa mengubah dengan kata yang lebih santun,” timpal Ketua dan Founder FKPBBN, Diyah Yuliana Kentjanawatty.

Ia mengajak kepada pihak-pihak terkait, para orang tua, pemerintahan terutama Kominfo dan Dinas Kebudayaan, para pemuka agama, bisa menjadi filter dan kontrol yang diharapkan bisa memberikan ketegasan dalam kaitannya dengan Budaya, Moral dan Budi Pekerti yang sesuai dengan Martabat Bangsa Indonesia.

Foto bersama mantan Bupati Sleman Sri Purnomo di sela acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan RI yang digelar FKPBBN, Sabtu (26/8/2023)

Di tempat sama, Yani Ambar selaku Penasehat Kain dan Kebaya Indonesia menyatakan dalam upaya mendukung Terus Melaju untuk Indonesia Maju, dibutuhkan peran aktif semua pihak. Karena bagaimanapun peran budaya dan kearifan lokal kita dapat menjadi filter dalam pencapaian Bangsa Indonesia yang Maju dan bermartabat.

“Susah payah kami berjuang mendidik dan membekali anak-anak dengan pemahaman tentang budaya, budi pekerti dan sopan santun, hanya karena viralnya umpatan tersebut anak-anak bisa ikut-ikutan, bahkan anak-anak yang bisa dikatakan mereka masih dibawah umur,” ujarnya, didampingi Ketua FKPPBN Diyah Yuliana Kentjanawatty, Itut Bambang (Ketua BPD Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia, KKI), Sutanti (Ketua KKI Sleman).

Di akhir penryataan sikap, Arya menekankan hendaknya Gilga Sahid segera mungkin untuk bisa merespon positif imbauan, kritik, saran, nasihat dan peringatan darinya. Karena respon ini disampaikan sebagai satu bentuk kepedulian dan rasa sayang terhadap karya-karya musik mereka. “Jika hal ini dianggap sepele dan tidak dipedulikan oleh yang bersangkutan, khususnya kami yang berada di Yogyakarta, mengingatkan bahwa sebaiknya tidak usah manggung saja di Yogyakarta dengan lagu itu, mohon kepada dinas terkait untuk mensikapi hal ini juga,” pungkas Arya.

Sebelumnya, acara dengan tema ‘Gerakan Pelestarian Budaya Nusantara sebagai Perisai Identitas Bangsa Untuk Membangun Sistem Bangsa Yang Bermartabat’ ini  semarak dengan lomba mengenakan kebaya, beberapa game. Dihadiri oleh beberapa perwakilan komunitas perempuan pelestari budaya, para generasi muda yang tergabung dalam Duta DIY.

Pemerhati budaya, Drs H Sri Purnomo MSi mengatakan mendukung kegiatan tersebut. “Kami mendukung segala upaya pelestarian budaya bangsa Indonesia yang luhur,” tegasnya. (*/Met)


share on: