Yogyapos.com (YOGYA)- Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta terus berupaya menggali identitas asli Kota Yogyakarta yang selama ini nyaris tenggelam. Salah satunya adlah dengan menggelar kegiatan “Gelar Sastra Kotagede“ yang berlangsung di Pendhopo Sekretariat Sastra Mbeling Kampung Dolahan, Kotagede pekan lalu.
Kegiatan yang diisi dengan Diskusi dan Angkringan Sastra tersebut dimaksudkan sebagai upaya membangkitkan kreatifitas generasi muda Kota Yogyakarta dalam bidang seni sastra.
Pada kesempatan tersebut, sastrawan muda Noorty Ida Ayuningrum membacakan puisi karya Emha Ainun Nadjib berudul 99 Untuk Tuhanku, Achika Afriyati membaca karyanya sendiri berjudul Bhineka Tunggal Ika, FX Joko Sarwono membaca Geguritan berjudul Bebadra, Angin, Kidung Mawar.
Yang tak kalah menarik adalah penampilan pertunjukan Sastra Ngudarasa. Dua karya sastra ngudarasa Mustofa W Hasyim berjudul Ki Ageng Miskin dibawakan oleh Puji Widodo dan Telunjuk Sunan Kalijaga oleh Tegar Imani. Penampilan ini sangat memukau penikmat sastra yang hadir.
Suasana akrab juga terasa tatkala penikmat sastra dari berbagai latar belakang: warga sekitar, mahasiswa sastra, bahkan turis mancanegara duduk bersila di atas tikar sembari wedangan menikmati menu angkringan. Panggung sastra bernuansa etnik tradisional Jawa, berupa pendopo limasan yang berhias ornamen unik dan apik mencirikan Kotagede di masa lalu.
Tokoh masyarakat Kotagede Heniy Astiyanto SH mengatakan bahwa Sastra Mbeling adalah paguyuban seni sastra yang didirikan pada 2015 oleh almarhum Brisman HS dan Aris Purwoko. Saat ini dimotori oleh Erwito Wibowo dan Mustofa W Hasyim. “Kita berkesenian di Kotagede yang rasa budayanya sangat melekat. Terimakasih kepada Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang telah memfasilitasi agenda ini,” ujar Heniy dalam rilis media yang diterima redaksi Senin (20/3/2023).
Sementara itu, tokoh budaya Charis Zubair menyampaikan pengalaman bersastra di Kotagede. Sebagai pelaku sastra bersama komunitas sastra yang tumbuh di kampung Kotagede ia menjadi saksi aktivitas sastra yang berbaur dengan warga sejak lama.
Menurut Charis lingkungan sosial budaya di Kotagede memang mendukung tumbuhnya ekosistem sastra. Dulu di Kotagede tahun 1930-an sudah ada toko buku SN 26 dan toko buku Merpati. Kemudian diikuti hadirnya perpustakaan Pemuda Muhammadiyah dan perpustakaan Apik, juga pendopo-pendopo warga yang menjadi tempat aktivitas sastra.
“Hingga tahun 1970-an sastrawan besar seperti Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Najib, Darwis Khudori, Slamet Kuntohaditomo hingga Mustofa W Hasyim tercatat sejarah telah berproses kreatif sastra di Kotagede. Karena itu, sastra merupakan ekspresi seni budaya yang luar biasa. Orang bersastra memiliki kemampuan mengkomunikasikan bahasa simbolik,” tegasnya.
Sementara Erwito Wibowo bertutur, kedatangan tokoh sastra di masa lalu ke Kotagede berpengaruh pada ketertarikan generasi muda pada sastra. Maraknya lomba-lomba sastra membawa pengaruh baik dengan munculnya generasi sastrawan hasil lomba.
“Gelora sastra anak muda di Kotagede perlu ditumbuhkan lagi. Sastra Mbeling memfasilitasi hal ini melalui kegiatan jagongan seni, pelatihan penulisan sastra dan juga pertunjukan. Melalui agenda ini, dunia sastra juga didekatkan dengan masyarakat oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta,” imbuhnya.
Pada sisi yang lain, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Ismawati Retno mengatakan bahwa pihaknya memiliki semangat yang besar untuk menggelorakan lagi geliat sastra di penjuru Kota Yogyakarta. Agenda sastra dirancang pada tahun 2023 ini agar aktfitas sastra semakin menyentuh banyak warga kota. Harapannya Yogyakarta kembali menyandang identitas sebagai Ibu Kota Sastra. (Sds)
