Kita semua sejak lahir pada dasarnya sudah divonis mati. Pada dasarnya semesta itu dinamik, berubah terus menerus. Namun juga menampilkan hal yang tetap.
Perubahan, dinamika, gerakan di semesta seringkali harus dibarengi dengan kerusakan atau kematian taraf substansi tertentu untuk berproses menuju taraf kualitas realitas yang lebih sempurna.
Sayuran, buah, bahkan binatang akan mati misalnya dengan cara dimakan oleh manusia, secara dinamis berproses menjadi substansi realitas yang lebih tinggi yakni jiwa manusia. Sementara satu saat kelak manusia yang menyantap akan mati juga dan mengikuti hukum alam untuk menuju kualitas yang lebih sempurna.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-vonis-mati-sambo-membalikkan-keraguan-publik-9704
Semesta berproses secara kreatif dengan meletakkan peran dan fungsi manusia sebagai titik temu antara makro kosmos dengan mikro kosmos. Karena harus diakui puncak kualitas kemakhlukan di tangan manusia yang berilmu dan berkesadaran.
Dengan demikian kematian sesungguhnya bukan finalitas, melainkan tahap menuju kualitas yang lebih spiritual dan "abadi". Maka berdasarkan hal tersebut diatas, semua yang ada di semesta ini. Mulai dari jasad renik, sel, vegetasi, hewan, manusia begitu memulai kehidupannya sudah divonis hukuman mati, yang eksekusinya kelak di masa depan yang tak bisa diperkirakan kapan terjadinya.
Semesta berproses dengan hukum itu, lahir, hidup, laku, mati, terus lahir lagi sebagai realitas dengan kualitas lebih tinggi. Nah dalam dinamika proses itu seringkali ada penyimpangan yang membuat proses kosmos dalam titik tertentu dianggap "khaos". Yaitu ketika tatanan hukum alam terganggu "ulah" individu makhluk yang membuat khaos semesta yang lebih luas.
Manusia sebagai pemegang peran yang mempertemukan makro dengan mikro kosmos melakukan keputusan dalam rangka menjaga keteraturan semesta.
Bakteri penyakit, hama, tumbuhan pengganggu, manusia jahat, secara individual, bisa dimatikan. Tapi tentu memutuskan kematian makhluk itu harus didasarkan alasan yang memadai dalam rangka menjaga kosmos, hanya mematikan individu yang merugikan dan bukan mematikan spesies, dan tentu demi keteraturan ekosistem kehidupan tetap terjaga.
Bisa juga kalau alasan tepat, maka vonis hukuman mati untuk Sambo, yang diawali dengan pembunuhan Joshua, merupakan bagian dari cara semesta untuk menjadikan kualitas kepolisian lebih sempurna dan dalam skala lebih luas membuat bangsa dan negara tercinta lebih menjunjung moral dan spritualitas kehidupan.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-polisi-tembak-polisi-di-rumdis-polisi-cctv-tuhan-tak-mati-7760
Setiap individu "penjahat" yang divonis mati oleh pengadilan manusia, masih diberi kesempatan untuk banding sampai dengan grasi dan waktu tertentu untuk menyesal dan berkelakuan baik.
Sebenarnya kita semua yang hidup normalpun, sejak lahir sudah divonis mati dan tinggal menunggu eksekusinya. Semoga sisa waktu kita bisa gunakan untuk menyesal atau taubatan nasuha yang dibuktikan dengan kelakuan baik kita.
Dengan harapan kelak kita bisa hidup di keabadian dalam kualitas yang lebih sempurna dan generasi yang hidup sesudah kita lebih baik.
Dalam skala ruang dan waktu yang lebih luas, dengan kelakuan baik generasi sebelumnya, semesta tetap terjaga secara kosmik. (Achmad Charris Zubair, Budayawan Yogyakarta)
