Ingin Tahu Raja Preman? Datanglah di Pertunjukan 'Opera Ikan Asin' Teater Alam, 15 Agustus di TBY

share on:
Latihan pementasan 'Opera Ikan Asin' Teater Alam di pementasan di Ndalem Pitulungan, Selokraman, Kotagede Yogyakarta || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (YOGYA) - Teater Alam Yogyakarta akan menggelar pentas “Opera Ikan”, di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (15/08/2023). Pementasan Opera Ikan Asin dalam rangka Ulang Tahun Teater Alam ke-51 ini disutradarai Puntung CM Pudjadi, melibatkan sekitar 70 pemain.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-cak-nun-bang-azwar-an-wong-agung-5791

Beberapa aktor besar Teater Alam yang akan turun dalam pertunjukkan ini antara lain Meritz Hindra (pemeran Mekit/Mat Piso), Hadjar Pamadhi, Swastika Anastasia, Nunung Rieta (pemeran Polly Natasasmita Picum), Jack Sofian, Eddy Subroto, dan lain-lain. Dalam penyutradaan, Puntung dibantu dua astrada: Ronny AN dan Bambang KSR.

Sutradara pementasan, Puntung CM Pudjadi || YP-Yuliantoro

Di sela latihan pementasan di Ndalem Pitulungan, Selokraman, Kotagede, Puntung CM Pudjadi menceritakan Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera pertama kali dipentaskan di Theater am Schiffbauerdam, Berlin 31 Agustus 1928, diiringi gubahan musik Kurt Weill. Kurt Julian Weill yang hidup dari 2 Maret 1900 hingga 3 April 1950, adalah komponis berkebangsaan Jerman yang lahir di Dessau dan meninggal di New York City. Ia komposer kampiun untuk dunia panggung.

BACA JUGA: PENTAS MONSERRAT TEATER ALAM : Monumen Kreasi Menolak Senjakala

Diceritakan, Berthold Brecht yang lahir 10 Februari 1898 dan meninggal 14 Agustus 1956 merupakan penyair dan penulis naskah drama asal Jerman. Ketika Adoft Hitler berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan menentang ideologi Nazi. Karena diawasi Gestapo (polisi negara), ia melarikan diri ke Amerika Serikat. Pada akhir Perang Dunia II, Brecht kembali ke Jerman sampai akhir hayatnya.

Brecht sendiri menurut cerita, juga mendaur ulang cerita itu dari lakon yang lebih tua berjudul The Beggar’s Opera karya John Gay sekira tahun 1728 di London.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-tumpengan-hut-ke47-teater-alam-azwar-an-wantiwanti-anggotanya-agar-jadi-teladan-122

Di Indonesia Nano Riantiarno, semua itu digubah dan disederhanakan dengan judul: Opera Ikan Asin. Latar peristiwa dari London abad 19 menjadi Batavia abad 20 di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Kisahnya berpusat pada Mekhit alias Mat Piso, Raja Bandit (preman) Batavia yang justru dijadikan pahlawan oleh masyarakat. Nano Riantiarno, yang juga pendiri Teater Koma Jakarta mulai mementaskan Opera Ikan Asin tahun 1983, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. 

Masih kata Puntung, keseluruhan tema sama, yaitu kritik sosial terhadap golongan kapitalis sehingga naskahnya mendapat penyesuaian latar waktu dan tempat sesuai zaman. Ia pun, mengadaptasinya kembali dengan latar belakang kota Yogyakarta tempo dulu. Opera Ikan Asin bercerita tentang Si Raja Preman Batavia, Mekhit alias Mat Piso yang menikahi Poli Picum tanpa restu ayahnya, Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Yogyakarta. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-anugerah-aki-azwar-an-terima-uang-rp-50-juta-dan-pin-emas-5-gram-3257

Picum mengancam Kartamarma, asisten kepala Polisi yang juga sahabat Mekhit, bahwa para pengemisnya akan mengacaukan upacara penobatan Gubernur Jenderal yang baru. Akhirnya pemerintah kolonial Belanda terpaksa menagkap Mekhit dan akan digantung tepat saat upacara penobatan. “Namun saat tali menjerat leher, datang surat keputusan dari Gubernur Jenderal yang isinya membebaskan Mat Piso dari segara tuduhan,” kata Puntung sambil melihat anggota Teater Alam berlatih.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-ratusan-seniman-mengiringi-pemakaman-seniman-besar-azwar-an-5794

Lakon Operasi Ikan Asin tentang era yang penuh ketidakjelasan. Raja Preman dijadikan pahlawan oleh masyarakat. Para petinggi hukum bersahabat dengan para penjahat kakap, sogok-menyogok menjadi budaya. Bahkan hukum pun bisa disandera oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Sebuah zaman dimana titah penguasa bisa memutar balik keputusan pengadilan. “Pesan moral kami adalah  kepolisian sebagai penegak hukum idealnya tidak berteman dengan penjahat preman. Apalagi ada anaknya yang menikah dengan penjahat,” ujarnya.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-prof-yudiaryani-ma-tentang-perjuangan-abad-21--perlu-paradigma-baru-pendidikan-sebagai-panglima-123

Pimpinan Produksi, Erna Azmita AN mengatakan, sejak bangkit dari tidur panjangnya di tahun 2018, Teater Alam tidak pernah berhenti berkarya. Tahun 2018, memperingati usia ke-47, Teater Alam mementaskan Montserrat (8/12/2018) dengan sutradara Puntung CM Pudjadi. Selain pementasan, juga peluncuran buku Trilogi Teater Alam setebal (total) 900 halaman racikan Roso Daras dan Prof Yudiaryani.

Tahun 2020, Teater Alam kembali mementaskan karya Sophocles Oedipus Rex dengan sutradara Azwar AN dan Meritz Hindra. Bertepatan 50 tahun Teater Alam, tahun 2022, menggelar lima karya dengan tagline “Karya Emas, Kerja Keras, Loyalitas”. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-50-tahun-teater-alam-gubernur-teater-asah-ketajaman-batin-dan-rasa-manusiawi-8498

“Tahun 2021, tepatnya 27 Desember 2021, Azwar AN, pendiri Teater Alam, wafat,” ujar Nana, panggilan akrab putra kedua Azwar AN, yang kini memegang estafet sebagai Ketua Perkumpulan Teater Alam itu. Teater Alam lahir 4 Januari 1972. Didirikan oleh Azwar AN bersama alm Yoyok Aryo, Meritz Hindra, Muji Purnomo, anggotanya sebagian besar anak Asdrafi.

Melalui pementasan Opera Ikan Asin ini, Teater Alam yang pada awalnya berbasis teater sanggar ini semakin meneguhkan dirinya sebagai kelompok tertua dan legendaris yang tetap eksis di Yogyakarta.  (Tor/Met)

 


share on: