seperti pantomim, kau bergerak terus
jemarimu membuat kode-kode, mulut
komat-kamit. kau sedang menyulap apa?
kami terpana, terhenyak menerka rahasia
yang lenyap dibawa sorak wajahmu jenaka
Tepat sekali cara penyair-aktivis Afnan Malay dalam membahasakan sosok Jemek Supardi dalam sajak "Seperti Pantomim". Soal seni pantomim, tentu akan banyak kita temukan pemerannya, tetapi siapa bisa mengimbangi laku lampahnya yang penuh totalitas berpantomim? Tak mudah menafsirkan pesan yang dia sampaikan tetapi kita terhibur, bahkan hanya dengan melihat wajahnya saja.
Seolah tiada lelah, Jemek menghiasi jalanan kebudayaan, singgah di beragam komunitas dan sanggar seperti Teater Alam, Teater Boneka, dan Teater Dinasti untuk menempa ilmu, lalu mengolah dan melemparkannya ke panggung kehidupan dalam cara yang bisa jadi orang tak akan mampu melakukannya. Jemek memiliki kekuatan lain yang tak pernah lelah atau habis menemani perjalanannya berkesenian. Tak seorang pun yang tahu bagaimana energi alam itu bisa begitu dahsyat itu mampu menyatu dalam diri Jemek.
Sebagai seorang seniman, Jemek lebih dari cukup memberi warna bahkan mengangkat Yogyakarta sebagai Kota Budaya. Bakat alam yang dipadu ketekunannya mengikuti beragam pentas para mentornya menjadi kawah candradimuka baginya. Banyak cerita lucu yang sering kita dengar tentangnya. Peran-peran yang dia mainkan kadang keluar dari pakem tetapi disanalah letak talenta Jemek.
Jemek adalah seorang pendiam, cenderung pelit bicara tetapi jenius dan karenanya imajinatif. Dia mampu membahasakan realita sosial lalu mentransformasikan secara apik dalam gerak tubuh yang autentik. Ini yang kemudian memberinya kedudukan sebagai seorang legenda pantomin Indonesia. Pernah, Cak Nun bercerita Jemek kesulitan dalam menghafal naskah, akhirnya dipercaya mengurusi bidang artistik, seperti properti, make up, dan kostum. Bisa jadi dari situlah Jemek belajar sendiri untuk mengeksplorasi gerak tubuh menjadi pantomim.
Suatu saat pada 26 Maret 2016 saya pernah menikmati pentasnya di Taman Budaya Yogyakarta bersama Mustofa W Hasyim. Jemek sebagai murid sedang Mustofa sebagai guru. “Bahasa itu penting. Berbicara itu penting”, kata Tuan Guru kepada muridnya. “Tetapi, bagaimana aku mengajarimu sedang aku juga tak bisa bicara?” lanjut Tuan Guru, getir.
Meski lama mengenalnya sebagai seorang pantomimer andal tetapi saya baru bertemu Jemek pertama kali di Purna Budaya UGM saat digelar Hari Ulang Tahun ke-54 Sanggar Bambu tahun 2013. Kebetulan saat itu saya menjadi Ketua Panpel 36 Tahun Purna Budaya. Sebuah pertemuan yang membanggakan karena dia merespon acara dengan positif dan unik, khas seperti senyumnya yang pelit.
Lahir di Pakem Sleman pada 14 Maret 1953, Jemek telah mendedikasikan hidup dan usianya untuk kesenian dan kebudayaan. Seperti juga Sujud Kendang yang akrab dengan kemerdekaan berkesenian di jalanan, Jemek telah memberikan pelajaran kepada kita. Totalitas berkesenian tak akan pernah lahir dari kenyamanan hidup. Kesulitan demi kesulitan yang menerpa kadang menjadi bara yang menggembleng mental dan karakter kita hingga sejarah menempatkan seorang Jemek pada singgasana yang mungkin tak seoranpun bisa meraihnya. Selamat jalan, Kang. (Wahjudi Djaja)
