Yogyapos.com (BANTUL) - Jasa seorang seniman atau budayawan acapkali terlupakan saat yang bersangkutan sudah berpulang keharibaan Ilahi Rabbi. Padahal jasanya dalam kancah kesenimanan dan kebudayaan sangat banyak. Kiprahnya untuk mendorong dan memotivasi generasi sangat layak untuk diapresiasi.
Maka selayaknya seorang yang telah berjasa walaupun sudah meninggal dunia menuju kea lam keabadian ditinggal semprung. Seolah tidak berbekas. Menyadari hal itu jangan sampai terjadi, komunitas malam Minggu Legen yang diinisiasi seorang pegiatseni budaya di Yogyakarta Akhir Lusono mengadakan kegiatan mengenang Almarhum Brisman Hs.
“Jadi almarhum Brismas itu bagi saya sangat member warna dalamkehidupan saya. Bukan hanya secara pribadi, namun secara aktivitas banyak sekali kegiatan yang kami lakukan bersama. Oleh karena itu seizin istri almarhum, saya menginisiasi kegiatan mengenang Almarhum Mas Brisman Hs. Bukan maksud apa-apa jika kami mengadakankegiatanini. Lebih kepada menunjukkan ini lho, karya kang Brisman masih ada. Monggo kalau ada masyarakat yang hendak mementaskannya. Juga kegigihan mas Brisman dalam memotivasi generasi muda sangat luarbiasa,” jelas Akhir Lusono alumni Doktor Universitas Islam Indonesia tersebut.
Akhir menyatakan, kegiatan akan dihelat pada 18 Juni 2022 Pukul 19.30 WIB, di Cebongan RT 11 Dukuh 4 Cungkuk, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Melibatkan istri almarhum Dianita. Testimoni akandisampaikan oleh Dra Siti Nikandaru Chairina, Mustofa W Hasyim, Erwito Wibowo.
Adapun kolase pertunjukannya menampilkan Khocil Birawa dengan baca geguritan, Dr Arif Budi Raharjo MS (bacapuisi, Syech Puji (monolog Jawa), Damar ISI Yogyakarta SBO PC IM AR Fakriddin (Musikalisasi puisi) dan suluk tlutur oleh Ki Slamet Eet AP, serta penampilan lainnya.
Kegiatan dikemas prasaja, santai dan lesehan sehingga egaliter, bisa saling sapa aruh diselingi mendengarkan dan menyaksikan pertunjukkan.
“Sembari malam Mingguan, ngobrol tentang seni budaya. Khusus special Malam Minggu Legen besok sekali lagi kita akan membincangkan hal-hal yang telah diperbuat oleh almarhum mas Brisman,” terang Akhir Lusono memungkasi perbincangan.
Kegiatan penumbuhan kantung-kantung aktivitas membincangkan seni budaya juga mementaskan seni budaya adalah hal yang perlu di tumbuh suburkan. Yogyakarta jangan sampai mlempem ditelan arus globalisasi dan jaman milenial. Kegiatan semacam ngobrol ngalor ngidul dan sarasehan atau semacamnya sejatinya dapat menjadi penyeimbang penggerusan nilai karakter yang terampas oleh kemajuan teknologi yang tidak hanya menyuguhkan kebaikan. Namun juga banyak nilai yang tidak baik terhidangkan oleh kemajuan. Maka adanya kantung-kantung kegiatan ini perlu di gairahkan. Semoga Yogyakarta tetap istimewa. (*)
