TAMPAKNYA, setelah 10 November 2025, kita dikondisikan untuk memasuki era pengonyolan sepanjang sejarah Indonesia. Kekuasaan politik telah memperlihatkan kecerdasannya untuk memperkonyol masyarakat. Logika politik campur-baur yang salah kaprah, telah mengalahkan segalanya.
BACA JUGA: Seni Sebagai Resonansi Estetik
Pada masa pemerintahan kolonial, politik kekuasaan, walau sangat represif dan demi keuntungan kolonial, masih ada landasan ideologis yang tidak mengunci logika akal sehat. Paling tidak, dari landasan ideologisnya, walau sepihak, logika tidak dikunci oleh logika yang konyol dan membunuh pikiran jernih.
Pada masa Soekarno, walaupun di akhir kepepimpinannya Soekarno terlihat salah pilih dalam meletakkan landasan ideologis kekuasaannya, Soekarno tidak melakukan kesalahan logis dalam berpikir. Cuma, Soekarno telah salah langkah secara sosial dan kultural.
BACA JUGA: Gus Dur Pahlawan Nasional, PKB DIY Gelar Tasyakuran
Kesalahan langkah Soekarno diambil alih oleh Soeharto. Soeharto membangun suatu sistem logis atas nama pembangunan dan modernisasi. Secara ideologis Soeharto tidak melakukan kesalahan. Yang mengerikan dari Soeharto adalah semangatnya memusatkan kekuasaan dan kekayaan. Beliau lupa bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia yang miskin semakin banyak yang pintar.
BACA JUGA: Nashila Syahla Rilis 'Surat Kecil untuk Nabi' pada 110 Hari Jelang Ramadhan
Presiden-presiden berikutnya tidak lebih keren daripada Soekarno dan Soeharto. Konfigurasi dan struktur politik juga telah berubah. Namun, proses demokratisasi meloncat ke mana-mana. Sebagian tersuruk dalam ruang-ruang media sosial yang membuncah. Sebagian lain menghamba kekuasaan secara palsu dan untung-untungan.
BACA JUGA: Puluhan Guru SMP Ikuti Workshop Pemanfaatan AI di Balai Tekkomdik Yogya
Perasaan dan tuntutan demokrasi semakin keras. Hanya mereka yang cerdas dan berani bermain kasar yang akan memenangkan pertarungan. Media sosial dan kecerdasan artifisial ikut membolak-balik fakta, kebenaran, dan pikiran. Sebagian logika yang lain berjumpalitan dalam ruang-ruang frustrasi.
BACA JUGA: Diskominfo Sleman Membentuk Tim Monitoring Media, Ini Maksudnya
Sistem kekuasaan mengatur uang yang semakin tersalur ke kantong-kantong segelitir oligar. Sebagian besar tentu tidak syah alias korupsi. Dalam terminologi relijius, bergeraknya uang ke kantong-kantong penguasa jelas tidak halal. Namun, dalam terminologi politik dan ekonomi sekuler, pengertian halal tidak dikenal dan tidak diakui.
BACA JUGA: Ibu Muda 'Bobol' BMT Projo Artha Sejahtera Ratusan Juta, Begini Modusnya
Masyarakat menjadi penonton yang tidak bisa berbuat banyak. Secara sistem masyarakat diamputasi kemampuannya sehigga hanya bisa nyanyi-nyanyi di pinggir jalan. Mungkin sebagian berpuisi sambil sedikit caci maki. Tapi, peradaban yang menyingkirkan logika dan etika terus berjalan.
Peradaban seperti itu, melahirkan generasi kekuasaan sebagai perselingkuhan kekuasaan, uang, teknologi, dan ideologi yang kemaruk. Maka, generasi baru kekuasaan tersebut terlihat akan tampil seolah cerdas, berani, bahkan memiliki ketegaan tidak mengakui hati nurani bangsa, hati nurani rakyat.
BACA JUGA: Waropen, Daerah Otonom Baru Menuju Kemandirian dengan Kearifan Lokal & Regulasi Humanis
Kebudayaan masuk ke era ketika anak peradaban yang menjadi penguasa, menjadi sekelompok penguasa yang tidak mengenal ibu bangsa sejatinya. Kekuasaan oligar berserikat dengan orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai tokoh hebat yang dibayangkan bisa menyelamatkan banyak orang.
BACA JUGA: Lakalantas Maut BMW Kontra Vario di Sleman, Terdakwa Divonis 14 Bulan
Hanya satu dari si beliau tidak melakukan kesalahan. Dia tahu bahwa dia banyak kesalahan. Karena kesadaran tersebut, dia tahu bahwa sebenarnya posisinya lemah dan ambigu. Maka, biar seperti kuat, dia bertekat semua dihadiahi. Yakni, baik kepada subjek penguasa pemangsa maupun objek yang menjadi korban. Semua dihadiahi untuk mengunci mulut-mulut para pendukungnya.
BACA JUGA: Kasus Dugaan Korupsi Bandwidth Diskominfo Sleman Segera Disidangkan
Logika mengunci mulut para pendukung pemangsa dan korban menjadi campur-baur. Seperti layaknya makanan, campurannya menjadikannya tidak bisa dimakan. Maka kecewalah pihak-pihak yang tahu campuran makanannya tidak benar. Bahakan ada emak-emak yang ikut marah dan ngamuk.
Semua telah berlangsung dan telah dikukuhkan. Sejarah ke depan terbangun dan tersistem dalam logika-logika oligar yang berselingkuh dengan berbagai pihak yang diharapkan akan menyelamatkan kekuasaan ke depan, paling tidak untuk tahun 2029.
BACA JUGA: Gubernur HB X Kukuhkan Pirukunan Tuwanggana Periode 2025-2030
Tapi, sejarah tetap dicatat. Generasi baru akan ikut membaca dan belajar. Mudah-mudahan akan ada pencerahan yang bisa melakukan pembongkaran dan membuat menu yang pas campurannya. Mari berdoa, generasi baru ke depan bisa dan mampu keluar dari cengkraman logika politik yang berbahaya tersebut. (Penulis: Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM)
