Yogyapos.com (YOGYA) - Puisi memiliki sejarah panjang dalam kehidupan dan kebudayaan Indonesia. Para tokoh pergerakan yang mempelopori kebangkitan nasional hingga kemerdekaan adalah para penyair dan sastrawan yang lihai mengolah diksi sehingga karya mereka mampu menggerakkan kesadaran nasional.
Demikian Dr Nasir Tamara DEA DESS saat memberi sambutan dalam Malam Puisi 78 Tahun RI di Ndalem Natan Kotagede, Minggu (20/8/2023) malam. Dalam kesempatan tersebut owner Ndalem Natan ini membacakan tiga buah puisi karya Muh Yamin, Soekarno dan Moh. Hatta.
BACA JUGA: Bawa Gagasan Perubahan, Anies Baswedan-Muhamin Iskandar Resmi Mendaftar ke KPU
Lebih jauh disampaikan, ada salah satu tokoh pers yang memiliki kepedulian tinggi dalam melihat kebudayaan Indonesia adalah Mochtar Lubis. “Mochtar Lubis mengatakan ada enam sifat dasar manusia Indonesia, yakni munafik, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, bersifat dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik atau berbakat seni dan lemah watak atau karakternya”, tandas Owner Ndalem Natan ini.
Tazbir membaca salah satu puisinya || YP-Wahjudi Djaja
Terkait latar belakang digelarnya Malam Puisi, Ketum Satupena (2017-2021) ini menjelaskan, panggung kehidupan nasional yang hiruk pikuk karena dinamika politik menyita ruang-ruang tegur sapa budaya. “Dengan puisi kita damaikan hati, biar Ibu Pertiwi tidak bersedih hati. Banyak inspirasi yang bisa gali dari puisi. Maka kami persilakan teman-teman yang mau menggunakan Ndalem Natan ini untuk beragam ekspresi kebudayaan,” papar penerima Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY tahun 2021 ini.
BACA JUGA: Pesan Perubahan dari Yogya: Anies Baswedan Gaungkan Keadilan dan Persatuan
Pembacaan puisi dipandu langsung oleh Kamal Firdaus yang juga menjadi salah satu penggagas acara Malam Puisi. Beragam kalangan dan latar belakang membaca puisi karya sendiri maupun karya para penyair seperti Chairil Anwar, Wiji Thukul, dan Rendra. Beberapa yang membaca puisi antara lain Tazbir, Advokat senior Kamal Firdaus SH, Sutirman Eka Ardana, mantan Ketua Sanggar Teater Eska Aly D Musyrifa, Dosen STIEPar ‘API’ Wahjudi Djaja, Priyo Salim dll.
BACA JUGA: Pasca Dideklarasikan PKS, Anies: Koalisi Makin Solid Mengusung Misi Perubahan
Ndalem Natan adalah bangunan klasik yang dibangun sekitar 1875. Seolah menjadi oase dalam derap kehidupan masyarakat Kotagede dan Yogyakarta, rumah milik saudagar kaya pada masanya ini menyajikan suasana bangsawan. Dilengkapi pendopo, kedai, toko buku berkelas, ruang pamer dan penginapan, Ndalem Natan berusaha menjaga ruh Kotagede sebagai pusat kebudayaan. (Iud)
