ANCOL Bligo, bendungan sekaligus obyek wisata ini terletak di jalur alternatif Yogya-Magelang. Selain jarak yang lebih dekat dan arus lalin yang tidak sepadat jalan Magelang sehingga waktu tempuh menjadi lebih singkat, wisatawan yang bertolak dari Yogya menuju Borobudur atau sebaliknya akan dimanjakan dengan keindahan alam sepanjang jalur tersebut.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-niken-probo-laras--local-wisdom-karakter-wisata-kulon-progo-156
Tanahnya subur, sebagian diantaranya dimanfaatkan penduduk setempat dengan menanam beragam buah seperti durian dan buah naga. Pada samping kiri–kanan, mengapit jalur itu, berdiri beberapa lapak buah yang menawarkan hasil panen para petani. Saat musim durian tiba, banyak pemburu durian lokal berdatangan ke daerah tersebut. Jalur alternatif yang sungguh patut dicoba bagi siapapun yang hendak berkunjung ke Yogya dari arah Barat maupun Barat Laut.
Bendungan Ancol ini merupakan hulu dari dua selokan yaitu Selokan Van Der Wijk (saluran Kalibawang) dan Selokan Mataram (yang membelah Kota Yogyakarta). Aliran air saluran irigasi diperoleh dengan cara membendung Kali Progo di Desa Bligo, Magelang dan mengalirkannya ke saluran irigasi yang melintasi Yogyakarta dan berakhir di Kali Opak.
Kali Progo memiliki mata air di hutan Jumprit, lereng Gunung Sindoro yang selain mengalir ke Selokan Mataram juga mengalir ke laut selatan membatasi wilayah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulonprogo. Selain ke Selokan Mataran, bendungan ini juga mengalirkan airnya ke Saluran Van der Wijck yang dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1914 untuk mengairi persawahan dan perkebunan di daerah Moyudan, Kabupaten Bantul yang waktu itu merupakan daerah industri perkebunan gula.

Jika Saluran Kalibawang dibangun pada masa pendudukan Belanda, maka pemerintahan Jepang pada tahun 1942-1945 membangun sebuah proyek irigasi yang dikenal dengan “Kanal Yoshiro” atau “Selokan Mataram”. Proyek ini merupakan salah satu upaya Sri Sultan Hamengku Buwono IX agar warga Yogyakarta terserap pada pembuatan saluran irigasi tersebut sehingga mereka tidak dikirim ke luar Pulau Jawa sebagai tenaga romusha. Pembuatan irigasi (Selokan Mataram) terus berlanjut hingga tahun 1951. Saat ini, selain ini peruntukan bagi pengairan sawah, Ancol Bligo menjadi salah satu tujuan wisata yang murah meriah, memanjakan mata dan menyejukkan hati.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-terpopuler-page-128
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo tengah membenahi kawasan Bendungan Ancol yang terletak di Dusun Pantog Wetan, Banjaroya, Kalibawang ini dapat optimal sebagai obyek wisata. Saat ini proyek penataan dan pembangunan berbagai prasarana fisik terus dilakukan, diharapkan agar pengunjung terus bertambah sehingga meningkatkan perekonomian warga setempat maupun pendapatan asli daerah.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pelepasan-anak-penyu-menandai-ultah-jogjaklanese-di-pantai-trisik-3519
Keberadaan pepohonan yang cukup rindang di area Ancol membuat pengunjung betah berlama-lama disana. Anto (28) salah satu pengunjung Ancol mengatakan, dirinya cukup sering mendatangi tempat tersebut sekedar untuk menghindar dari rutinitas pekerjaan sehari-hari.
Menurutnya pada akhir pekan tempat ini akan semakin ramai oleh pengunjung, yang biasanya rombongan keluarga dan remaja. Siapa pun yang datang ke tempat ini tidak dipungut biaya.
Sebagai tempat wisata, Ancol masih perlu dimaksimalkan. Tampak di beberapa sudut area Ancol terdapat bekas arena permainan anak yang dibiarkan rusak. Dan di sana juga tidak ada fasiltas penunjang seperti kamar mandi, hanya terdapat sebuah warung sederhana. (Yuliantoro)
