Yogyapos.com (BANTUL) - Rektor Universitas Muhammadiyah (UMY) Yogyakarta Dr Ir Gunawan Budiyanto MP menyatakan, universitas yang dipimpinnya hingga kini terus berusaha mengedepankan kiprah dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikannya untuk tetap berkarya mendunia.
"Walaupun berusia relatif muda, tapi kami tetap berusaha mengerahkan semua unsur akademika untuk berkiprah mendunia,” dalam Rapat Senat Terbuka dan Laporan Tahunan Rektor, di Kampus terpadu UMY, Kamis (28/3/2019).
Kegiatan yang masih terkait dengan Milad ke-38 UMY tersebut mengusung kredo ‘Millenials and Global’ dihadiri Sekretaris PP Muhammadiyah Dr H Agung Danarto MAg dan Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA. Sedangkan pidato milad disampaikan Duta Besar RI untuk Turki, Dr H Lalu Muhammad Iqbal.
Gunawan lebih jauh mengungkapkan, upaya kiprah mendunia itu juga merupakan gambaran semangat beraktivitas bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk berprestasi bagi UMY walaupun dalam usia masih muda.
Dua periode berturut-turut UMY meraih akreditasi A. Kemudian sekarang menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 20.761 orang, terbagi dalam 8 Fakultas, Program Vokasi dan Pascasarjana.
Sedangkan tenaga pendidik sebanyak 436 orang dengan beragam status kepegawaian, didukung 645dosen, di antaranya ada 342 orang sudah tersertifikasi dan 172 dosen bergelar doktor serta 470 dosen bergelar master, profesi atau spesialis. Jumlah dosen dengan jabatan fungsional asisten ahli meningkat 32 persen dan jabatan fungsional lektor meningkat 11 persen.
Saat ini prodi yang ada di UMY sebanyak 38 dengan 20 prodi terakreditasi A dan 18 prodi terakreditasi B. Pada 2018 terdapat 3 prodi telah mempertahankan akreditasi A yaitu Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Ilmu Hukum, dengan skor yang meningkat. Selain itu dibuka prodi baru Doktor Manajemen.
“Hal itu demi tercapainya strategi pengembangan universitas yang telah dicanangkan menjadi international reputable university pada tahun 2020,” kata Gunawan.
Adapun implementasi strategi menuju International Reputable University fokus pada bidang akademik, sumber daya manusia, keuangan dan aset, kemahasiswaan, alumni dan AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) serta kerjasama dan internasional.
Menghadapi era Revolusi Industri 4.0, UMY telah mengembangkan sistem pembelajaran secara daring (e-learning). Jumlah mata kuliah daring sampai tahun 2019 sebanyak 468 matakuliah. Total dana hibah Rp 4,6 miliar bagi dosen yang melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring dan Rp 13 miliar untuk dana internal penelitian.
UMY, papar Gunawan, senantiasa berkontribusi untuk umat melalui pendidikan dan pengabdian, baik dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan beragam inovasi hingga pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi dan terobosan ekonomi.
Sementara itu Dr H lalu MUhammad Iqbal menyampaikan pandangannya dari hasil kontemplasi panjang selama 27 tahun menjadi akademisi dan 21 tahun menjadi praktisi.
Sekian abad lamanya, dikatakan Iqbal, national interest menjadi satu-satunya alasan para pemimpin dunia dan suatu negara mengambil keputusan dalam hubungan internasional. “Menguatnya aktor-aktor nonnegara atau nonstate actor dalam satu abad terakhir, mau tidak mau, mengganggu comfort zone negara dalam hubungan internasional,” jelasnya.
Saat seorang pemimpin negara membuat sebuah kebijakan luar negeri, kita tidak lagi cukup hanya mempertanyakan apa national interest negara tersebut dibalik kebijakan yang diambil. “Lebih dari itu, kita perlu mempertanyakan korporasi mana yang ada dibalik kebijakan tersebut?” papar Lalu Muhammad Iqbal.
Lalu M Iqbal menegaskan, yang bisa dilakukan ke depan adalah bagaimana negara-negara dapat mengurangi kesenjangan (gaps) antara national interestnya dengan corporate interestnya, jika memungkinkan, bahkan seiring dan sebangun.
Setiap negara di dunia, memiliki margin of error dalam kebijakan luar negerinya. Semakin besar sebuah negara, maka semakin besar margin of error-nya. Semakin besar margin error sebuah negara, semakin besar keleluasaannya dalam membuat kebijakan luar negeri.
“Bahkan ketika melakukan kesalahan pun, negara tersebut masih memiliki ruang untuk melakukan remedy atau damage control,” tandasnya.
Tapi semakin kecil margin error sebuah negara, maka semakin tidak leluasa negara tersebut dalam membuat kebijakan luar negeri.
“Karena setiap kesalahan bisa berakibat fatal terhadap keamanan negara tersebut, bahkan terhadap kelangsungan hidup negara tersebut,” kata Iqbal yang menambahkan sudah banyak negara yang berspekulasi dalam kebijakan luar negerinya, tanpa tahu margin of error. Akibatnya, negara-negara tersebut runtuh tanpa bisa bangkit hingga saat ini.
Pada kesempatan itu Dr H Agung Danarto MAg selaku Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebutkan, UMY harus menjadi pioneer dalam menjadikan dakwah Islam sebagai pembangun bangsa. “Agama harus selalu berinteraksi dengan ilmu pengetahuan dan realitas masyarakat,” katanya.
Dengan hal itu, Islam akan mampu membawa negara kepada kebaikan. Dalam hal ini, UMY harus dapat menjadi lokomotif yang membawa gerbong masyarakat untuk menuju baldatun thoyyibah. (Afn)
