Muhammadiyah dan NU Bantul Serukan Ukhuwah Islamiyah

share on:
Suasana pertemuan pengurus Muhammadiyah dan NU Bantul di Kantor MUI setempat, Jumat (13/11/2020) || YP-Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Menjelang Pilkada Bantul 2020, dua organisasi kemasyarakatan (ormas) dan keagamaan Islam terbesar di kabupaten ini yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), mengajak masyakatat kian menjalin ukhuwah islamiyah.

Ajakan maupun ajakan tersebut dicetuskan melalui pertemuan yang diinisiasi oleh Majlis Ulama (MUI) Bantul, Jumat (13/11). Dihadiri pengurus kedua organisasi tersebut, berlangsung penuh keakbaran.

“Pertemuan ukhuwah islamiyah antara para pengurus NU dan Muhammadiyah ini, kami adakan agar semua massa kedua ormas itu tetap rukun dan hidup berdampingan di tengah masyarakat,” ucap Pengurus MUI Bantul Bidang Ukhuwah, Hartadi Prasojo, dalam siaran persnya yang diterima yogyapos.com, petang tadi.

Hartani mengungkapkan, di tengah hangatnya persiapan menuju pemilihan Pilkada Bantul yang akan berlangsung pada 9 Desember 2020, Muhammadiyah dan NU sepakat untuk menyeru kepada umat Islam dan segenap masyarakat Kabupaten ini bahwa pilkada merupakan ajang kontestasi kepala daerah yang sudah dilaksanakan secara periodik berkali-kali, sehingga tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Ketua Syuriah Pengurus Cabang NU Bantul, KH Drs Damanhuri MA, menyatakan bahwa yang ‘punya gawe’ Pilkada ini adalah kita semua, seluruh masyarakat Bantul. Para calon diusung oleh partai politik, bukan diusung oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah.

Sebagai warga negara, KH Damanhuri mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menyukseskan perhelatan Pilkada ini dengan memilih calon sesuai dengan prinsip kebebasan dan kerahasiaan menurut pertimbangan masing-masing rakyat yang berhak memilih. 

Sedangkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul, Ustadz Drs H Sahari yang tampak akrab berdampingan dengan KH Damanhuri menambahkan, Muhammadiyah dan NU itu gerakan dakwah amar makruf nahi munkar. Bukan organisasi politik praktis, sehingga bersama merasa berkewajiban untuk menjaga Ukhuwah Islamiyah sebagai sesama lembaga dakwah. 

“Sebagai lembaga dakwah, kami tidak boleh berpihak secara politik hingga terkesan terpecah-belah sebab hal itu dapat membingungkan umat. Oleh karena itu, kami menyerukan kepada umat dan masyarakat Bantul untuk tetap menjalin silaturahim di antara sesama umat Islam. Tidak perlu terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah-belah umat dan merusak nilai silaturahim sesama umat Islam. Gunakan hak pilih sesuai yang diyakini dan jauhi politik transaksional dan politik uang yang dapat merusak nilai-nilai demokrasi,” ajaknya.

Dalam kesempatan ini, KH Saebani MA, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bantul selaku pengganti Allahuyarham/Almarhum KH Kholiq Sifa, menyampaikan tiga pesan penting yakni pertama, NU dan Muhammadiyah adalah ormas yang sudah sangat berpengalaman dan terbiasa menghadapi ajang pesta demokrasi seperti pilkada ini. Oleh karena itu MUI mempertemukan dua ormas besar ini untuk menjalin ukhuwah dengan maksud menunjukkan kepada umat dan masyarakat bahwa Muhammadiyah dan NU tetap rukun bersatu. 

Kedua, ajang pilkada ini adalah peristiwa politik yang merupakan ajang kompetisi para calon yang diusung oleh partai-partai politik, sehingga harus disikapi biasa-biasa saja dan jangan sampai menimbulkan perpecahan di antara ummat Islam.  

Ketiga, MUI bersepakat dengan NU dan Muhammadiyah untuk menyerukan gerakan moral anti politik uang supaya menghasilkan pemimpin yang terbaik. (Supardi)

 

 

 

 


share on: