Yogyapos.com (YOGYA) – Sebagai persiapan pelaksanaan Grebeg Syawal 1444H/Tahun Ehe 1956, Keraton Yogyakarta Rabu (19/4/2023 ) melaksanakan prosesi Numplak Wajik di Panti Pareden, Komplek Magangan Kraton Yogyakarta. Prosesi Sakral ini dipimpin langsung oleh Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.
Numplak Wajik merupakan upacara yang menandai dimulainya proses merangkai gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat. Nantinya, gunungan tersebut akan diarak dan dibagikan kepada warga pada upacara Garebeg.
Abdi Dalem menabung Gejog Lesung selama prosesi Numplak Wajik berlangsung || Sulistyawan Ds
Dalam setahun Keraton Yogyakarta menggelar tiga kali upacara Garebeg; Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, Garebeg Sawal menandai akhir bulan puasa, dan Garebeg Besar untuk memperingati hari raya Idul Adha. Karena dalam setiap Garebeg tersebut keraton selalu mengeluarkan gunungan untuk dibagikan, maka dalam setahun tiga kali pula Keraton Yogyakarta menggelar upacara Numplak Wajik.
Numplak Wajik sendiri dilaksanakan sore hari, selepas waktu Ashar, sekitar pukul 15.30, bertempat di Panti Pareden Kilen yang terletak di pojok barat daya Plataran Kemagangan, tiga hari sebelum Garebeg berlangsung.
Menjelang upacara Numplak Wajik dilaksanakan, kerangka dan mustaka gunungan telah diletakkan di Panti Pareden. Tidak jauh dari pagar Panti Pareden, disiapkan sebuah lesung besar dan beberapa alu penumbuk. Sekitar pukul 15.30, rombongan Abdi Dalem Keparak yang dipimpin oleh seorang Putri Dalem (putri Sultan), atau saudari Sultan yang ditunjuk, datang dari utara melalui Regol Kemagangan.
Kedatangan mereka diiringi oleh gejog lesung yang dimainkan Abdi Dalem. Lesung yang terbuat dari gelondongan kayu besar dipukul oleh beberapa alu dengan irama tertentu sehingga menghasilkan musik yang dipercaya dapat menolak bala. Setelah rombongan tersebut duduk di dalam Panti Pareden, maka upacara pun siap dimulai.
Upacara Numplak Wajik dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji. Setelah itu Abdi Dalem Kanca Abang mempersiapkan jodhang. sebagai landasan gunungan dari kayu yang digunakan untuk mengangkut gunungan tersebut..
Gejog lesung pun kembali terdenga dengan irama Gendhing Tundhung Setan dan alu tersebut terus mengalun selama prosesi berlangsung.
Sebakul besar wajik ditumplak pada jodhang, bentuknya serupa silinder dengan ketinggian sekitar pinggul orang dewasa. Rangka Gunungan Wadon yang terbuat dari bambu kemudian dipasang, diikat erat pada pasak besi yang terdapat pada jodhang Mustaka gunungan yang telah dipersiapkan sebelumnya diangkat dan ditancapkan pada wajik tadi. Abdi Dalem Keparak mengoles lulur yang terbuat dari dlingo dan bengle pada jodhang. Sinjang (kain panjang) songer kemudian dililitkan pada rangka gunungan. Lilitan tersebut kemudian diikuti lilitan semekan (kain penutup dada perempuan) bangun tulak.
GKR Hemas memimpin secara langsung prosesi Numplak Wajik di Panti Pareden Komplek Kemagangan, Keraton Yogyakarta || YP-Sulistyawan Ds
Gejog lesung baru berhenti dimainkan, setelah upacara dinyatakan telah selesai. Lulur dlingo bengle kemudian dibagikan kepada Abdi Dalem yang bertugas serta pengunjung yang hadir. Tidak lama kemudian, sinjang songer dan semekan bangun tulak dilepas kembali.
Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Jawa, dlingo dan bengle adalah empon-empon (rempah-rempah) yang aromanya tidak disukai oleh mahluk halus. Oleh karena itu, gejog lesung dan lulur dlingo bengle berfungsi untuk penolak bala agar selama upacara berlangsung. Dapat diselenggarakan secara lancar tanpa kendala.
Upacara berlangsung sekitar setengah jam. Proses menyelesaikan rangkaian gunungan dilanjutkan hingga menjelang upacara Garebeg. Pagi dini hari sebelum upacara Garebeg berlangsung, gunungan telah siap diangkut menuju Tratag Bangsal Pancaniti untuk nantinya dibawa keluar keraton dan dibagikan kepada rakyat.
Kepada sejumlah awak media, GKR Mangkubumi mengatakan bahwa Numplak Wajik kali ini dilaksanakan guna persiapan Grebeg Sawal yang tahun ini akan dilakukan secara luring. Tradisi ini merupakan yang pertama kali setelah selama 3 tahun ditiadakan karena pandemi. Nantinya, Karaton akan membagikan sebanyak 7 buah gunungan kepada masyarakat sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan YME.
Ciri khas tradisi Grebeg Sawal adalah rebutan Gunungan. Jika tahun sebelumnya rebutan gunungan diganti dengan pembagian rengginang maka untuk tahun ini Grebeg dikembalikan seperti masa sebelum pandemi yaitu dengan adanya rebutan gunungan oleh masyarakat. Untuk itu, GKR Mangkubumi berpesan agar masyarakat tertib dalam mengikuti grebeg.
“Tapi yang sabar ya? Gunungannya biar didoakan dulu kalau mau direbut. Jangan terburu-buru,” pesan GKR Mangkubumi. (Sds)
