Pementasan 'Jam Dinding yang Berdetak' Teater Eska Dijubeli 400-an Penontoton

share on:
Salah satu adegan drama realis 'Jam Dinding yang Berdetak' Teater Eska || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) – Bertajuk Studi Pentas ke-XXIII, Teater ESKA kembali menggelar pertunjukan teater, mengangkat naskah ‘Jam Dinding yang Berdetak’ karya Nano Riantiarno, di Gelanggang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (16/3/2023).

Seperti pada pementasan tahun sebelumnya, penonton pergelaran kali ini penuh sesak. Meski demikian sekitar 400-an penonton itu nampak suntuk menikmati jalannya pertunjukan, dari awal panggung dibuka dengan tampilan para aktornya hingga kembali ditutup saat akhir pertunjukan. Mereka seolah belum yakin jika pementasan telah usai.

“Saya kira pertunjukannya masih berlanjut, tapi ternyata sudah selesai toh,” ujar salah satu penonton.

Tak pelak, tepuk tangan disertai tempik sorai pun terjadi sebagai aplaus atas sukses pertunjukan tersebut.   

Jumlah penonton tersebut sesuai harapan Oman Talang selaku Pimpinan Produksi Studi Pentas angkatan XXIII. “Studi pentas merupakan pentas perdana anggota baru Teater Eska, dalam rangka mengaplikasikan ilmu yang telah diterima selama workshop penerimaan anggota baru. Tujuannya mengasah kreativitas anggota baru baik dalam bidang kreatif maupun di bidang produksi,” tutur Oman.

Menurutnya, pengurus sekedar menempati bagian-bagian vital, seperti Pimpinan Produksi, Stage Manager, Sutradara, Astrada, dan Sarana Prasarana. “Selebihnya pengurus memberikan keleluasaan bagi anggota baru dalam menemukan dan mengasah potensi yang ada dalam dirinya. Pertunjukan ini merupakan implementasinya,” tambahnya.

Usai pementasan, acara dilanjut dengan sarasehan untuk para penonton yang tujuannya adalah berdiskusi seputar pementasan.

Setting panggung realis yang mencitrakan status sosial dan jiwa penghuninya || YP-Ist

Rahma yang dalam Studi Pentas ini berperan sebagai Asisten Sutradara mengungkapkan, Studi Pentas adalah cara untuk mengenalkan teater kepada para anggota baru. Proses yang berlangsung 45 hari ini bukan hanya mengunggulkan proses kreatif, tapi juga kekeluargaan yang mendukung suatu proses.

Salah satu aktor yang berperan sebagai Beni yang bernama Dabo pun mengungkapkan bahwa kesan pertamanya menjalani keaktoran diatas panggung memang sedikit membuatnya kaget. “Karena latihan terus diforsir mulai dari jam 4 sore sampai 02.00 dini hari, belum lagi mood yang suka berubah dan beberapa hal dari luar yang mengganggu jalannya proses,” akunya.

Meski demikian, Dabo menyatakan secara keseluruhan proses tersebut terasa nikmat, karena dengan mendalami tokoh Beni yang suka melukis, maka dirinya jadi tertarik untuk meneruskan proses kreatif melukis.

Tidak hanya Dabo, aktor lain yang memerankan tokoh Oma, yaitu Aisyah juga merasa kaget dengan proses pertamanya di dunia teater, apalagi dalam proses Studi Pentas ini tidak ada hari libur. “Sunggung ini pengalaman pertama. Mengesankan,” tukasnya.

Teater Eska merupakan legenda teater kampus di Yogyakarta. Jejak kreatifnya sudah berlangsung cukup lama, sejak awal 1980-an. Dari kancah kreatif ini melahirkan banyak seniman lintas disiplin; dramawan, penyair, penulis freelance di berbagai media massa dan jurnal akademik, penulis buku pelukis, dosen, pejabat kementerian, art director, pengusaha, jurnalis dan lainnya. Dengan kata lain, Teater Eska (mungkin) adalah Kancah Kreatif untuk ‘Menjadi’ dalam bentangan dan/atau gumpalan nilai-nilai kehidupan. (*/Met)


share on: