Pengusaha Bulgaria Terpikat Keris Dalang Cilik

share on:
Ilian Dimitrov terpikat pada sebilah keris

Yogyapos.com (SLEMAN) - Ilian Dimitrov terpikat pada sebilah keris yang diselipkan di belakang pinggang dalang cilik Ki Satrio Adhi. Pengusaha berkebangsaan Bulgaria itu, dalam Bahasa Inggris, menanyakan apakah keris itu asli. Ia minta izin untuk melihat bagian dalam keris itu.

Sang dalang pun mengulurkan keris itu dan diterima Ilian. Lalu, Dimitrov mencabut keris itu dari warangkanya seraya mencermati bilahan logam bahan utama keris.

Pemandu dan penerjemah, Dede – juga dalam Bahasa Inggris, menjelaskan bahwa keris adalah senjata tradisional orang Jawa. Adapun keris yang dipakai si dalang bukan keris asli, melainkan hanya untuk melengkapi performance. Kata Dede, keris asli biasanya memiliki kekuatan magis.

Kris is traditional weapon of Javanese. But, that is fake Kris,” terangnya.

Dimitrov dalam kapasitasnya sebagai business partner Indonesia-Bulgaria untuk komoditi ekspor impor itu pun manggut-manggut, mafhum. Di tengah kesibukannya, ia berkesempatan berkunjung ke Kampung Seniman Merapi (dahulu Kampung Literasi Pakem) di Jalan Cilikan Pakemgede Kapanewon Pakem, Sleman, DIY, Sabtu (11/3/2023) pagi hingga siang.

Ia mendapat sambutan hangat dari seniman lintas kompetensi dengan seni pertunjukan wayang, displai lukisan yang direspons tarian, perupa yang tengah on the spot, kolaborasi pantomim dan bacapuisi, performance perkusi dari instrumen aneka macam barang bekas, seperti drum, galon air mineraldari Wayang Milehnium karya Ki Mujar Sangkerta.

Diawali dari permainan biola Eko Balung yang mengiringi putranya, dalangcilik Ki Satrio Adhi yang memainkan Wayang Pakem, Dimitrov tampak sudah terkesan. Kemudian dilanjutkan permainan wayang berdurasi 11 menit dengan sabetan, perangtanding, dan dialog tokohwa yang Batara Narada, Gatotkaca, dan Burisrawa.

Tuan rumah Sardi Beib menjelaskan kepada Dimitrov perihal karyanya yang merupakan hasil kreasi daur ulang sampah plastik dan kertas yang disebutnya sebagai wayang kristal. Ia berinisiatif memanfaatkan sampah yang menimbulkan masalah dalam hidup manusia di seluruh dunia menjadi karya seni. Ia menghadiahi wayang kristal Semar yang dibuat dari botol air mineral bekas.

Kemudian, Dimitrov menyaksikan tarian kontemporer Yessy Yoanne, pantomim Faiq Zaen Enderiza (50) duet bersama penyair Evi Idawati membawakan puisi karyanya sendiri tanpa teks, “Dan, Angin pun Berbisik”.

Pada saat merespons sejumlah lukisan di ruang tengah kediaman Arita Savitri, pandangan mata Dimitrov tampak terkesan pada sebuah lukisan karya Arita Savitri yang didisplai di tengah-tengah di antara sejumlah lukisan yang ditempel di sekeliling dinding rumah berkonstruksi kayu itu. Ternyata, Dimitrov berminat memiliki lukisan tersebut.

Arita Savitri mengilustrasikan, lukisan itu diberi judul 'Om'. Awalnya ia memberi nama lukisan itu,'Garuda Moksha'. Lukisan itu bercerita tentang kekuatan burung garuda yang terlepas dari lilitan rantai panas dunia yang membuat ia menderita dan terluka.

“Garuda itu kehilangan lima cakarnya. Ternyata cakar itu bukan patah tetapi tersangkut pada sebuah kekuatan yang membuat ia terikat dan tersiksa. Ia bergeliat di kegelapan, berharap cakarnya bisa terlepas dan membebaskannya. Memang cakar itu bisa terlepas tapi ternyata jiwanya juga terlepas. Akhirnya pada kepak sayapitu membuat ia bisa melindungi dirinya dari banyak kekuatan gelap,” ucapnya.

Evita yang mengantar pengusaha Bulgaria Dimitrovke komunitas seniman di Sleman mengungkap kesan dan pesan kolega bisnisnya itu. Dimitrov mengaku tidak pernah menduga mendapat sajian performance yang belum pernah ia saksikan sebelumnya selama ia mengunjungi Indonesia. Dimitrov merasa seperti menjadi bagian dari komunitas seniman. Ia mendapatkan pengalaman indah yang luar biasa di Yogya dengan orang-orangnya yang baik. (R Toto Sugiharto)

 


share on: