IA pergi. Ia berada di ruang pertunjukan teater yang baru, ruang sastra dan budaya di dunia yang lain. Yah.., Mas Giri, saya memanggilnya begitu. Wahyana Giri MC, sosok yang saya tahu, ia konsisten hidup di dunia teater sejak saya mengenalnya tahun 1988 di komunitas Kelompok Sastra Pendapa, Tamansiswa, Yogyakarta.
Namun sebelumnya, kata teman-teman, ia pernah tergabung di Teater Alam tahun 80-an, Teater Muara, Teater Shima, Teater Getih Budoyo, komunitas Arisan Teater Himpunan Teater Yogyakarta (HTY), Teater KSP, serta sejumlah grup teater yang lain di Yogyakarta. Hingga wafat, Mas Giri masih sebagai Ketua Dewan Teater Yogyakarta yang bermarkas di Taman Budaya Yogyakarta. Maka layak kalau Dewan Kebudayaan DIY pernah memberi anugerah sebagai sosok yang konsisten di dunia teater, di Kepatihan Yogyakarta.
Saya lupa, apa nama anugerah yang diberikan kepadanya, namun saya pernah melihat postingan di Sosmed dia.
Ia telah dipanggil Sang Khaliq, Selasa 10 September 2024, sekitar pukul 8.30 WIB. Namun kehidupannya selama 60 tahun, bagi saya adalah teater. Pernah suatu ketika seorang teman kekurangan biaya membayar kuliahnya. Ia memberikan satu-satunya sepeda motor Suzuki FR-nya untuk dijual, untuk membayar kuliah. Ia rela kemana-mana naik bus kota dan jalan kaki. Itulah secuil hidup teater gaya Mas Giri dari segudang kebaikannya ketika berteman.
Suatu ketika di tahun 90-an, ia punya uang Rp 30 ribu. Karena teman butuh banget, ia berikan yang Rp 20 ribu. Praktis di sakunya Mas Giri tinggal memiliki 10 ribu. Mas Giri jebolan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, ia pernah menjadi Pemred Pers Kampus PENDAPA, Redaktur Mingguan Eksponen, tulisannya berupa puisi, artikel dan esai tersebar di berbagai media dan pernah menjadi wartawan SKH Yogya Post yang berkantor di Kompleks Cemara Tujuh.

Karena itulah ketika Ismet NM Haris selaku Pemimpin Redaksi yogyapos.com yang hari itu sedang berada di Sukoharjo melalui WA meminta saya membuat tulisan tentang Mas Giri, saya justru yang ngungun, tapi selanjutnya kubalas; Insya Allah. Sejenak kemudian ia nyatakan; almarhum kawan yang baik sejak 1986.
Terlalu banyak hal yang ingin saya tuliskan. Tentu saja kenangan manis dan kenangan pahit bersamanya. Namun saya yakin, perjalanan hidup ini bagi Mas Giri, semuanya berasa manis. Karena ia tidak pernah mengeluh.
“Hidup itu mengalir saja,” ujarnya suatu ketika di tahun 90-an di warung makan pinggir jalan, depan LP Wirogunan.
Saya tampaknya kurang peka menangkap kode-kode yang diberikan oleh Mas Giri. Belum lama sebelum ia pergi untuk selama-lamanya, Mas Giri menghubungi saya lewat WhatshApp.
“Tulung aku diantar ketemu teman-teman Teater Alam ya. Aku pengin banget ketemu. Aku kangen sama mereka,” ujarnya.
Permintaan itu saya turuti. Sebelum maghrib, saya sudah berada di kediamannya, di Nyutran, Mergangsan Jl Tamansiswa Yogyakarta. Mas Giri ingin mengahadiri acara Azwar Award, di Gedung DPD RI DIY. Bahagia sekali Mas Giri bisa ketemu teman-teman Teater Alam mulai dari yang yunior hingga yang senior
Dalam perjalanan pulang, Mas Giri bilang, “tolong nek aku ora ono, tetep dijaga sedulurane ya (tolong kalau aku sudah meninggal dunia, tetap dijaga persaudaraannya ya),” ujarnya.
Tentu saja mulutku kaku dan bungkam. Dalam hati aku membantahnya, Mas Giri akan segera sembuh. Mas Giri masih akan berbuat banyak hal untuk masyarakat teater, seni dan budaya. Namun protesku dalam hati itu, tampaknya bertolak-belakang dengan kenyataan. Kehendak saya tidak mampu mengalahkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Tepat di hari Selasa Kliwon kemarin, Mas Giri sudah menghadap Sang Khaliq, meninggalkan kita semua. Di alam kreativitas yang lain. Semoga husnul khotimah. Aamiin.
Sebagai seniman dan dalam hal kreativitas, bagi saya, Mas Giri memiliki segudang ide-ide nakal, yang jarang dipikirkan oleh teman sejawat. Namun sebagai manusia biasa, tentu ia punya kesalahan. Dan saya orang pertama yang sudah memaafkan Mas Giri, sebelum Mas Giri meminta maaf kepada saya, karena pertemanan saya itu levelnya sudah naik menjadi saudara.
Ia takut dokter. Ketika Mas Giri harus menggarap film dokumenter ke Papua, tentu saja ia harus membawa surat keterangan sudah divaksin dan bebas covid, sebagai prasyarat baku untuk naik pesawat terbang. Tentu saja ia harus berhadapan dengan dokter untuk disuntik, diambil darahnya. Ini problem serius bagi dirinya. Namun karena bujuk rayu teman-teman, akhirnya ia mau disuntik.

Demikian pun waktu serangan stroke yang pertama, saat dia harus dirawat di salahsatu RS di Yogya. Dalam kondisi lemah, di IGD dia berontak mengajak pulang. Namun setelah dibujuk teman-teman dan istrinya, ia akhirnya mau diperiksa dokter. Seingat saya bergaul dengan Mas Giri selama 20 tahun lebih, saya belum pernah melihat Mas Giri minum obat, atau periksa ke dokter. Dia termasuk teman saya yang paling unik, tidak suka minum obat, takut disuntik dokter, bahkan ia pernah bilang melihat rumah sakit saja ngeri dan takut.
Meninggalkan seoang istri, namanya Titin Ariyani dan seorang anak, namanya Damar Kencana, hidup Mas Giri sangat sederhana dan sahaja. Saya dan teman-teman seniman di Yogya, rata-rata mengenal anak dan istrinya, bahkan sebagian besar cukup dekat dengan istri dan anak Mas Giri.
Maka tak heran, saat penghormatan terakhir sebelum Mas Giri disemayamkan, tampak hadir para seniman dan budayawan Yogya. Sebut saja, misalnya, Tokoh Tamansiswa Ki Sutikno, beberapa mahasiswa perwakilan dari Senat mahasiswa USTY dan dari Kapanewon Mergangsan (almarhum saat masih hidup merupakan pembina Ketoprak di Mergangsan, red), perwakilan Pengurus Ikatan Alumni Sarjanawiyata (IKASATA), perwakilan PKBTS, Advokat Heniy Astiyanto SH, anggota Teater Alam dan mantan sutradara Teater Uncok Nanang Sugeng Atmanto, Marwoto Kawer, Yani Saptohudoyo (istri seniman lukis kondang di Yogya, Sapto Hudoyo), Puntung CM Pudjadi, yang kita ketahui sutradara, penulis naskah dan aktor handal di Yogya yang juga sebagai kakak dari Mas Giri, Merit Hendra, Liek Suyanto, aktivis budaya Sigit Sugito, pemerhati budaya Lephen Purwaraharja, wartawan dan juga seniman Khocil Birawa, wartawan Jayadi Kasto Kastari, pemerhati sosial dan budaya M Satriya Wibawa, sejumlah politisi dan anggota dewan. (Sarwanto H Swarso)
