Yogyapos.com (KULONPROGO) – Desa wisata tak harus latah meniru spot dan destinasi daerah lain. Masing-masing pengelola harus mengeksplorasi karakternya semaksimal mungkin untuk dijadikan ciri khas dan pembeda. Dengan begitu, wisatawan akan menemukan sesuatu yang baru, fresh, dan mengesankan.
Dosen Prodi Pariwisata Sekolah Vokasi UGM, Pitaya SET MSc mengatakan hal itu dalam pembekalan kepada pengelola wisata Puncak Kleco Samigaluh Kulon Progo, di Rumah Seni Bukit Menoreh (RSBM), Jumat (4/1/2019).
Tahun ini, kata Pitaya, menjadi momentum yang baik bagi dunia pariwisata di Kulon Progo terkait rencana keberadaan bandara baru yang pembangunan sudah dikebut. Keberaan bandara baru nanti akan menempatkan wilayah Puncak Kleco sebagai wajah utama. “Oleh karena itu segenap pengelola wisata perlu meningkatkan kapasitas, mengeksplorasi potensi sesuai karakter lokalitas, dan membangun jaringan,” jelasnya.
Pengembangan pariwisata, menurut Ketua East Asia Inter-Regional Tourism Forum Bidang Akademik ini, setidaknya melibatkan empat unsur, yakni potensi alam, potensi budaya, potensi kuliner, dan atraksi seni budaya. Karakter wilayah Kulon Progo khususnya Puncak Kleco bersendikan alam yang indah dengan potensi tradisi dan budaya serta sejarah yang kaya, menurut Pitaya, bisa dijadikan andalan dalam membuat paket wisata. Guyup rukun dan kekompakan antara pengelola dan warga, serta keramahtamahan mereka dalam menerima tamu, merupakan modal sosial yang harus dipupuk dan dijaga. Tentang atraksi seni, Puncak Kleco memiliki seni tradisi jathilan lancur yang unik dan langka.
Pitaya menandaskan, mendirikan desa wisata bisa dimulai dengan inventarisasi potensi, identifikasi karakter, semangat untuk maju, terbangunnya jaringan kerja, dan manajemen kelembagaan yang kuat. (Udi)
