Yogyapos.com (SLEMAN) - Biaya tinggi dalam praktik politik kita menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Politik biaya tinggi ini menimbulkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tinggi, serta untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi pada tingkat tertentu memerlukan biaya lebih banyak pula dibandingkan negara-negara lain.
Kesimpulan tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, dalam acara Kontemplasi Ekonomi Politik “Pemilu 2024 & Arah Ekonomi Ke Depan” yang dihelat melalui platform daring Zoom, Jumat (9/2/2024).
BACA JUGA: Harweni Puji Hastuti SH, Caleg DPRD DIY Konsen Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui PKK
Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (AFEB PTMA) dan dimoderatori Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Purwokerto Dr Naelati Tubastuvi MSi.
Sebelum diskusi berlangsung, diawali dengan sambutan Ketua AFEB PTMA Prof Dr Rizal Yaya MSc. Narasumber dalam acara ini adalah Rektor UWM Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITBAD) Jakarta 2018-2023 Dr Mukhaer Pakkanna, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik, Dekan FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof Dr Anton Agus Setyawan, dan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia UMY Prof Dr Nano Prawoto SE MSi.
BACA JUGA: Sudah Kembalikan Gratifikasi Rp 4,9 M, Krido Tetap Dituntut Penjara 8 Tahun
Prof Edy mengemukakan, jika dicermati maka kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) menjanjikan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan angka yang dimunculkan yakni rata-rata pertumbuhan 7% per tahun, yang pernah dicapai pada masa Orde Baru dan pada era Presiden Joko Widodo ada di kisaran 5% per tahun.
Tentu angka 7% tidak mudah diwujudkan untuk jangka pendek misalnya tahun 2024 atau 2025. Bukan tidak mungkin mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi seperti masa lalu. “Pertama adalah potensi sumber daya alam. Indonesia masih memiliki sumber daya yang dibutuhkan global seperti nikel, bauksit, batubara, serta hasil pertanian/perkebunan seperti minya sawit, udang, kopi, dan sebagainya yang memiliki nilainya akan lebih tinggi jika diolah di dalam negeri sebelum diekspor,” kata mantan Ketua Forum Rektor Indonesia ini.
Kedua, lanjut dia, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang banyak, dan kini memasuki masa bonus demografi. Hal ini jika dikelola dengan baik akan menaikkan produksi dan produktivitas nasional lebih cepat,” tambah mantan Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor ini.
BACA JUGA: UWM Yogya Bersikap, Rektor: Perguruan Tinggi Harus Hadir Saat Masyarakat Butuh Pencerahan
“Harapan seperti ini logis kita munculkan walau sulit diwujudkan dalam jangka pendek. Namun demikian, usaha seperti ini, mengendalikan ekonomi biaya tinggi, meningkatkan produktivitas semua sumber daya, memberikan iklim kondusif bagi semua pelaku ekonomi, harus segera dimulai,” tegas Prof Edy.
Sementara itu, Prof Rizal Yaya dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada para narasumber dan semua yang telah menghadiri acara ini. “Terimakasih pula kepada Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan yang telah menjadi host. Diharapkan diskusi ini dapat dikembangkan terus,” tambahnya.
BACA JUGA: Aliansi Advokat Yogyakarta Desak Presiden Joko Widodo Meletakkan Jabatannya
Dr Mukhaer Pakkanna dalam penyampaian materinya mengungkapkan bahwa Pemilu memicu ketidakpastian ekonomi. “Energi warga dikuras untuk kontestasi. Pemilu 2024 bisa menopang konsumsi domestik, termasuk spending Pemilu, tetapi hanya 4,2% dari konsumsi domestik. Mobilitas usaha kecil baik ultramikro maupun mikro meningkat dan investasi skala besar wait and see serta stagnan,” ungkapnya.
Para pemateri dan moderator || YP-Its
Prof Nazaruddin Malik dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa kontestasi 2024 merupakan transisi penting menuju Indonesia Emas 2045. “Prinsip rent seeking behavior sering disebut tindakan oligarki karena perusahaan berkolusi dengan pemerintah melalui lobi-lobi kemudian mendapatkan subsidi untuk melakukan akselerasi perusahaan.Perbaikan distribusi pendapatan fungsional dicirikan oleh kenailan upah riil lebih tinggi daripada pendapatan perkapita. Post Covid-19 penciptaan lapangan kerja melemah dan informalitas melonjak,” kata Prof Nazaruddin.
BACA JUGA:Berharap Pemilu Jurdil, PDI Perjuangan Bantul Audiensi ke KPU
Hiirisasi
Prof Anton Agus Setyawan dalam penyampaian materinya mengatakan Pemilu 2024 merupakan proses politik yang menentukan perekonomian dansecara khusus Pemilu 2024 diharapkan menghasilkan pemerintah yang tanggap dengan perubahan lanskap bisnis dan memahami posisi Indonesia dalam bisnis global.
“Hilirisasi menjadi isu yang seksi dalam debat capres dan cawapres, tetapi tidak ada diskusi bagaimana hilirisasi dilakukan. Fokus hilirisasi hanya pada dua komodiats yaitu nikel dan batubara.Ketergantungan beberapa industri Indonesia terhadap impor perlu dikendalikan. Impor bahan pangan terkait dengan ketahanan pangan di Indonesia,” tutup Prof Anton.
Sedangkan Prof Nano Prawoto menegaskan bahwa ketiga pasangan calon (paslon) memiliki optimisme yang cukup kuat tentang pertumbuhan ekonomi. Pemilu 2024 ini menghadapi beberapa isu misalnya geopolitik, energi, pangan, perang Rusia Ukraina, dan perang di Gaza.
BACA JUGA: Bawaslu Klarifikasi Bupati Bantul Selaku Saksi Terkait Dugaan Pelanggaran Kegiatan di SSA
“Di Indonesia masih harus mempertahankan acuan suku bunga Bank Indonesia di kisaran 6%. The Fed masih mempertahankan suku bunga di kisaran 5,5%. Sejak 2022 sampai akhir 2023, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 500 basis poin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan angka inflasi 3,7% menjadi 3,2%. Harapannya di pertengahan 2024 suku bunga tidak akan naik lagi, atau bahkan mengalami penurunan,” pungkasnya. (*/Met)
