Rampak Kemuning Gancahan Sukses Angkat Narasi Lokal

share on:
Rampak Kemuning Gancahan membahasakan keharuman bunga kemuning || YP-Wahjudi Djaja

KEPIAWAIAN Jujuk Prabowo dalam menggarap pementasan karya seni memang telah teruji. Tak lebih dua bulan berproses mendampingi remaja dusun Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman, sutradara kawakan ini berhasil menyihir ratusan penonton yang memadati area parkir timur Embung Gagak Sura. Menampilkan Rampak Kemuning Gancahan, bersama musisi Denny Dumbo dan Jeirico seolah menjadi puncak acara Sadran Agung Kyai Wirajamba.

Rampak Kemuning Gancahan adalah sebuah karya cipta seni budaya yang menggabungkan unsur gerak, tari, teater, drama, puisi, sastra dan musik. Diadaptasi dari naskah karya Wahjudi Djaja, Rampak Kemuning Gancahan diinspirasi oleh kisah sejarah yang pernah terjadi di Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman.

Kisah yang sarat muatan moral dan kejuangan ini dilatar belakangi oleh Perang Jawa yang terjadi antara 1825-1830, saat Pangeran Diponegoro melawan tentara Belanda. Dalam salah satu episodenya kancah peperangan terjadi di tepian Kali Gagak Sura. Belanda menyerang Gancahan karena menjadi tempat kedudukan prajurit Diponegoro.

Ratusan penonton terpaku menikmati Rampak Kemuning Gancahan || YP - Wahjudi Djaja

Adalah Rangga Gancahan yang telah berani dengan penuh kesadaran untuk membantu kebutuhan perang Pangeran Diponegoro selama menghadapi tentara Belanda di kawasan Godean. Dibantu rakyat, Rangga Gancahan menjadi tulang punggung sekaligus perisai bagi Pangeran Diponegoro dan ratusan prajuritnya. Salah satu panglima sekaligus menantu Pangeran Diponegoro, Basha Abdul Kamil, terkepung tentara musuh dan terkena peluru Belanda. Dia, kemudian gugur di pangkuan Pangeran Diponegoro di Nanggulan.

Para remaja yang tampil apik dan mengesankan pada Sabtu (11/3/2023) malam itu adalah personil Bengkel Karakter Gancahan. Rata-rata mereka belum pernah sama sekali menggelar karya di panggung kebudayaan. Ada 21 personil yang pentas dan semuanya perempuan. Mengenakan kostum yang pas menggambarkan gerak gemulai kembang kemuning. Kembang yang identik dengan keberadaan Pangeran Diponegoro ini memang banyak tumbuh di dusun Gancahan.

Setting panggung alam dengan pepohonan besar dan lebat serta latar belakang Embung Gagak Sura (dulunya Kali Gagak Sura) dilengkapi pencahayaan yang sederhana, justru mampu menambah autentitas dan karakter padusunan. Sepanjang jalan dan seputar panggung dihiasi obor seolah hendak menampilkan suasana masa silam saat Pangeran Diponegoro bermarkas di dusun tersebut.

Catatan penting perlu disampaikan, yakni cara Denny Dumbo dan Jeirico dalam memberi sentuhan musik. Mereka baru bergabung dan berproses selama empat kali termasuk saat gladi resik. Namun, musik yang mereka ramu begitu kontemplatif senada dengan harmoni dan dinamika yang dibangun cerita. Kadang menghentak, menyayat atau membahana mengikuti cakrawala.  

Ratusan penonton begitu mengikuti dan menghayati alur cerita yang tak banyak mereka ketahui terjadi di dusun mereka. Kisah yang juga ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro dalam Babad Diponegoro pun belum pernah mereka baca. Yang lebih mengharukan adalah kehadiran keluarga para pemain mulai orang tua sampai kakek nenek. Mereka seolah memperoleh kesadaran dan kehidupan baru begitu anak atau cucu mereka pentas tentang kisah sejarah yang terjadi di Gancahan.

Sebuah upaya untuk mengangkat narasi lokal berbasis sejarah yang sangat efektif untuk membangkitkan kesadaran sejarah sekaligus kebanggaan akan jatidiri. Ada banyak jalan dan pintu saat kita harus mengangkat dan memberdayakan potensi padusunan. Pariwisata itu hanya soal dampak, tetapi kejelian dan ketekunan manusia dalam mengeloka sumber daya menjadi kunci utama.

Para personil Bengkel Karakter Gancahan yang menampilkan Rampak Kemuning Gancahan antara lain Devi Vena Melinda, Aurellia Tungga Dewi, Andyni Oktaviani, Nabila Qoirunnisa, Aisha Zulaikha Sabela, Aninda Senja Priantika, Vina Nazzala Putri, Leni Risma Wati, Angelina Krisanti, Laras Rahmawati, Zahra Adelia, Afifah Dwi Nuraini, Regi Putri Rahmadhani, Zahra Zuanita, Renata Khusnul Yovanda, Hening Lindri Prastiwi P, Ferisha Suci Hardani, Siti Nur Annisa, Sandra Nathania S, Fatimah Azzahra dan Siti Maghfirotin Na'im. Mereka dibantu Raharjo, Karyanto dan Johan Ichsan Arfani. Penata suara oleh Twinbee. (Wahjudi Djaja,Badan Promosi Pariwisata Sleman)

 

 

 


share on: