“Adhimas Dr. AL. Salam Sehat. Bisakah minta tulisan Adhimas untuk Jurnal Kebudayaan Dewan Kebudayaan Sleman?”
“Siyaga. Siap Rakamas. Tema menapa nggih?
Itulah penggalan percakapan via Whatshap beberapa waktu lalu dengan seseorang yang sangat berdedikasi untuk dunia seni budaya di Yogyakarta. Bukan karena berasal dari tempat kelahiran yang sama, Gunungkidul ketika saya menulis catatan sekelumit ini. Namun lebih karena rasa bangga akan kegigihan dan tanggung jawab beliau ketika mengemban amanah. Bukan hanya sebagai penyaksi, namun penulis beberapa kali sebagai partner kerja kesenian.
Allahuyarham Drs Purwadmadi Admadipurwa, begitulah nama sang sastrawan dan budayawan yang baru saja berpulang ke pangkuan Ilahi. Berita yang terkhabarkan melalui beberapa grup Whatshap yang saya ikuti membuat terkejut. Di usia yang relatif belum tua yakni 62 tahun beliau menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu, 5 Maret 2022 pada pukul 06.20 di RS Sarjito Yogyakarta. Jagad kesenian Yogyakarta berkabung. Kolega berdatangan, karangan bunga terpajang berderet, memberitahu secara tak langsung jika yang meninggal memiliki jaringan dan sedulur yang sangat banyak.
Rakamas, begitu ketika saya matur beliau. Memberikan keteladanan yang sangat luar biasa. Netah yunior dengan sabar, memberikan ilmu tanpa wigah-wigih dan tidak merasa owel. Selalu berdiri di tengah ketika ada pihak yang tidak sepaham. Contoh konkritnya ketika pada suatu waktu penulis menjadi dewan juri festival kethoprak antar kapenewon. Kami bertiga ditunjuk sebagai dewan juri. Ketika tiba saatnya memberikan penilaian, ada perbincangan yang agak meninggi tensinya, antara saya dengan dewan juri yang lain. Rakamas Pur, dengan sabar dan bijaknya mengajak untuk ening wening dan lerem, sareh biar adhem. Benar saja tidak berapa lama justru penilaian selesai tanpa adanya gejolak apapun.
Sang budayawan ini juga sangat luar biasa ketika bekerja. Selalu gasik atau rajin ketika berangkat kerja. Tidak pernah saya menjumpai dalam lima hari berturut-turut sebagai juri Rakamas Pur terlambat. Beliau biasanya rawuh awal walaupun kadang tidak langsung duduk di kursi dewan juri, namun akan mencari angkringan atau tempat transit yang ndhelik. Gigih patut dicontoh dan dijadikan teladan. Tentu itulah cerminan dari karakter yang bertanggung jawab dari Allahuyarham.
Di tengah kesibukannya, beliau tetap produktif menulis. SKH Kedaulatan Rakyat menjadi salah satu media arus utama yang dijadikan sebagai tempat untuk menuangkan gagasan-gagasan terbaiknya. Dalam catatan penulis, Rakamas Purwadmadi menulis di beberapa rubrik, baik itu Opini, Adiluhung, Cerita Cekak, Catatan Budaya, Cerpen dan lainnya. Tulisannya sangat mentes, berisi. Bahasanya mengalir juga santun. Sama seperti pembawaan beliau yang kalem, tidak menggelegak.
Kiprahnya didunia kepenulisan sangat diperhitungkan. Bahkan banyak sekali karyanya yang dijadikan inspirasi untuk dijadikan kajian akademik, baik untuk pembuatan skripsi maupun untuk kajian akademik lainnya. Novel Sinden adalah karya beliau yang dijadikan skripsi. ‘Bondan Nusantara Mewajah Kethoprak Indonesia’ merupakan buku karya Allahuyarham juga. Dan tentunya masih banyak yang lain.
Allahuyarham Drs Purwadmadi Admadipurwa, juga pernah bergabung di Kedaulatan Rakyat Grup, di Mekar Sari pernah masuk jajaran Redaksi dan Reporter di SKH Kedaulatan Rakyat, serta SKH Yogya Post. Meninggalkan seorang istri yakni Rini Lestari dan empat anak. Masing-masing: Ayusha Widyandita, Atmyarsi Linaras, Halintar Herlintang, Benrindang Latusura. Sugeng tindak Mar Pur. Labuh labetmu akan selalu dikenang. Jasamu memberikan ilmu kepada generasi muda akan terus menjadi amal jariyahmu. Sekali lagi Selamat Jalan!! Surga Menantimu!! (Dr. Akhir Lusono, Penggurit yang pernah menimba ilmu kepadamu, tinggal di Yogyakarta)
