Sejumlah Seniman Sambut Baik Kehadiran Kembali Angklung Rajawali di Malioboro

share on:
Performance Angklung Rajawali Yogyakarta || YP-Sarwanto HS

Yogyapos.com (YOGYA) - Pasca pandemi Covid-9, musik angklung akan dibolehkan kembali tampil di Malioboro. Angin segar dan kabar menggembirakan dari pemerintah Kota Yogya ini, diawali dengan dilakukannya kurasi terhadap sejumlah group angklung di kota Yogya, diantaranya yang di-kurasi adalah Angklung Rajawali Malioboro Yogya, akhir pekan kemarin. 

Kurasi ini tentu disambut baik oleh teman-teman musisi jalanan angklung Malioboro. Mereka dengan antusias berlatih dan mengkombinasikan musik tradisional Jawa berupa gamelan ke dalam komposisi musik angklung mereka.

Kabar akan tampilnya kembali musik angklung di Malioboro, mendapat sambutan positif dari para seniman Yogyakarta. Seperti dikatakan Ki Sigit Sugito, yang kita kenal sebagai penyair di Kota Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa Malioboro memang sepi tanpa adanya angklung. 

Dia sempat mendengar kabar dari berbagai pihak, banyak wisatawan yang kecewa setelah mereka ke Malioboro untuk menikmati musik angklung, ternyata tidak ditemukannya.

“Sepertinya musik angklung sudah menjadi semacam ikonnya Malioboro,” ujar Ki Sigit Sugito, Minggu (5/3/2023).

Sigit setuju terhadap kebijakan pemerintah kembali menghadirkan musik angklung namun dengan sejumlah pembenahan agar wisatawan bisa lebih terhibur, kesan yang baik, citra Yogya yang terjaga, sekaligus untuk meneguhkan bahwa Yogya merupakan kota budaya dengan dihuni oleh para seniman yang kreatif dan inovatif.

Hal senada juga disampaikan oleh Novita Pristiani Dewi, seniman teater Yogya. Menurutnya, kehadiran angklung di Malioboro, merupakan sesuatu hal yang positif dan akan memberi warna bagi jagat seni di Yogyakarta. 

“Yogya itu miniaturnya Indonesia. Semua genre seni mendapat ruang yang sama untuk dikembangkan di Jogjakarta. Seni itu bersifat universal, tidak memiliki batas-batas teritorial dan administrasi. Yogya menjadi simbol kebhinekaan kita,” kata Novi dan menyarankan teman-teman musisi angklung mengenakan blangkon, sebagai ciri khasnya Yogya, ramah, senyum dan bersikap sopan kepada para tamu.

Seniman yang juga jurnalis SKH Kedaulatan Rakyat, Khocil Birawa mengatakan, ini langkah yang bagus yang dilakukan Pemkot Yogya dengan melakukan kurasi terlebih dahulu bagi musisi jalanan yang akan melakukan performance di Malioboro. Yogyakarta menjadi gudangnya seni di Indonesia, sedangkan Malioboro menjadi tujuan utama bagi pengunjung Yogya.

“Wisatawan merasa belum ke Yogya, jika belum ke Malioboro. Maka kita harus suguhkan yang terbaik bagi semua tamu Yogjakarta. Kita sapa dengan ramah, senyum dan kita suguhi hiburan yang berkualitas,” kata Khocil dan mengatakan bahwa musisi jalanan pada hakikatnya juga seniman.

Khocil Birowo

Sementara itu, Ketua Kelompok Angklung Rajawali, Suparyanti merasa plong setelah grupnya menjalani kurasi. Tim kurator yang terdiri dari 5 orang, katanya, menilai bahwa penampilan dan penggarapan angklung ini berbeda dengan grup-grup yang lain.

Menurut Mbak Yanti, sapaan akrabnya, memang Tim Kurator berpendapat bahwa masing-masing grup itu harus punya ciri khas.  Jika sama dan seragam dalam garapan seni, itu malah kurang bagus. 

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Tim Kurator, semua saran dan masukannya saya catat untuk bahan pembenahan group angklung kami. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ujarnya kepada yogyapos.com.

Ia juga untuk mengikuti perkembangan zaman, grup angklungnya juga melakukan pembenahan organisasi. Formasi kepengurusan yang sekarang adalah: Pelindung Angklung Rajawali adalah Drs Brotoseno MSi, Pembina Ki Sigit Sugito, Ketua Suparyanti, Sekretaris Sarwanto H Swarso, Bendara Virtus, serta dibantu oleh sejumlah seksi yang dikoordinatori oleh Susan Marmaya. (Sarwanto H Swarso)

 


share on: