Soal Angklung Malioboro: Dihadiri Anggota DPRD, Forum JMTY Segera Kirim Desakan ke Plt Walikota

share on:
Para pendukung Angklung Malioboro usai diskusi dan sepakat kirim surat desakan ke Plt Walikota Yogya || YP-Sarwanto H Swarso

Yogyapos.com (YOGYA) - Sejumlah seniman Yogyakarta dari beberapa komunitas yang tergabung dalam forum diskusi Jaringan Masyarakat Tradisi Yogyakarta (JMTY) segera mendesak Pemkot Yogyakarta agar mengizinkan sejumlah grup angklung bermain kembali di kawasan Malioboro.

Desakan tersebut dilakukan tertulis dan akan dikirimkan ke Plt Walikota Yogyakarta Sumadi SH MH, ditembuskan ke DPRD Kota, DPRD DIY, Gubernur DIY dan Presiden RI.

“Bagi kami tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda mereka bermain kembali di Malioboro, mengingat situasi sudah kondusif, pasca PPKM pandemi Covid-19,” kata Ki Sigit Sugito, inisiator diskusi, di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (28/3/2023). 

Forum diskusi ini juga dihadiri sejumlah perwakilan grup angklung Malioboro dan sejumlah komunitas seniman Yogyakarta. Dalam pertemuan ini, mereka langsung menyusun surat pernyataan bersama, yang sedianya segera dikirimkan ke berbagai pihak terkait.

Koordinator komunitas seniman yang hadir siang tadi adalah Risang Yuwono (Tobong Institut), Hawa Habibah (Milenial Berbudaya), Agus Hartana (Sekolah Purbakala), Mas Bekel Joyo Supriyanto (Indonesia Rumah Kebhinekaan), Totok Sudarwanto (Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia/LKNI), Bambang Nursinggih (Sanggar Pangawikan), Arya Bayek (Asosiasi Musisi Yogyakarta), Awit Radiani (Komunitas Migunani) dan Sigit Sugito (Koperasi Seniman Yogyakarta), serta sejumlah wartawan media cetak dan elektronik.

Tampak hadir dan memberikan urun rembug, mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY, H Tazbir Abdullah dan Anggota DPRD DIY Sukron Arief dari Fraksi PKB dan Komisi D. Hadirnya Komisi D ini sangat tepat, mengingat salah satu tupoksinya adalah melakukan pengaturan kawasan Malioboro.

Seperti pernah diberitakan yogyapos.com, beberapa waktu silam, sejumlah grup angklung Malioboro sudah menjalani kurasi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Tim Kurator dari Kelompok Pengamen Jalanan Malioboro (KPJM), secara teknis dikoordinasikan oleh Kepala UPT Pengelola Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Drs Ekwanto AMd.

Sebagian peserta diskusi nampak suntuk mengikuti lalulintas dialog memperjuangkan hak grup angklung || YP-Sarwanto

“Setelah dilakukan kurasi mestinya tidak berlama-lama lagi teman-teman group angklung Malioboro menganggur dan menunggu. Kasihan mereka. Mereka punya anak dan istri. Ini sejalan dengan pernyataan Ngarso Dalem Sri Sultan HB X, Gubernur DIY, bahwa keberadaan Malioboro memiliki aspek seni, budaya, wisata dan harus mensejahterakan warganya, atau memiliki aspek ekonomi bagi rakyat Yogyakarta,” ujar Sigit Sugito. 

Hal senada juga dikemukakan Risang Yuwono, Agus Hartana dan Totok Sudarwanto. Menurutnya, silahkan saja dilakukan penataan, karena memang Malioboro dari waktu ke waktu memang harus ditata. “Namun penataan itu mestinya menjadikan Malioboro lebih baik, lebih bersih dan lebih nyaman, sehingga tidak menimbulkan komplain-komplain dari pengunjung. Satu misal soal parkir, jajanan dan lain-lain,” ujar Risang Yuwono. 

Menurut H Tazbir Abdullah dan Sukron Arief, teman-teman musisi jalanan ini perlu kita dampingi untuk segera mendapatkan solusi konkrit. Dengan berkirim surat dan melakukan desakan ke berbagai pihak, hendaknya mereka cepat tanggap dan segera direspon, sehingga kekecewaan wisatawan yang tidak menemukan angklung di Malioboro, segera bisa diatasi. 

“Jangan ada lagi argumentasi bahwa angklung bukan musik asli Yogyakarta, sehingga tidak boleh tampil di Malioboro. Yogyakarta ini kota budaya. Kota pendidikan dan kota seniman yang kreatif dan inovatif. Kalau alasan itu selalu mengemuka, maka peradaban kita kembali ke beberapa ratus tahun silam. Yogyakarta ini miniaturnya Indonesia. Musik itu bahasa yang universal, buat umat manusia sedunia,” ujar Risang Yuwono. 

“Pembenahan dari waktu ke waktu terhadap Malioboro memang harus dilakukan. Tujuannya agar wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara semakin mendapatkan kenyamanan saat menikmati indahnya Malioboro. Namun group-group angklung ini juga jangan terlalu lama diliburkan. Sebab bagi wisatawan, angklung sudah menjadi ikonnya Malioboro. Mainnya angklung ini sudah ditunggu-tunggu oleh para wisatawan,” ujar Tazbir dan hal ini juga dibenarkan oleh Mbak Yanti, koordinator Angklung Rajawali, Mas Esti koordinator Calung Funk dan Adi dari Carehal dan ditambahkan, sejak angklung tidak main lagi di Malioboro sejak Maret 2020, banyak penggemar yang menanyakan lewat DM Instagram dan Chat Whatsap ke group-group angklung, isi pesannya: kapan mereka akan tampil kembali.

Vakumnya kegiatan seni angklung di Malioboro sejak Maret 2020 sampai sekarang sangat disayangkan oleh semua peserta diskusi. Maka dalam waktu dekat, forum seniman ini akan membuat langkah-langkah konkrit seperti mengadakan festival angklung dan akan diikutsertakan dalam kegiatan malam selikuran yang akan digelar dalam waktu dekat ini dengan mengambil tempat di kawasan Malioboro.

“Kalau kita telisik sumbernya bermula ketika Malioboro menjadi kesatuan sumbu filosofis yg didaftarkan ke Unesco. Lalu dampak dan implementasi yaitu penggusuran dan pelarangan yg dibungkus eufisme dengan kebijakaan penataan dan ketertiban oleh aparatus birokrat. Seolah-olah Unesco menjaxi rezim kebudayaan yg mendikte otoritas jati diri kebudayaan kita,” kata Sigit Sugito bersemangat di forum diskusi ini.

Menurut Totok Sudarwanto, kadangkala birokrasi di bawah sering melakukan kesalahan dalam menerjemahkan visi dan misi, serta apa maunya Gubernur DIY. (Ato)


share on: