Sosio Drama Diponegoro Hibur Warga Sindumartani

share on:
Salah satu adegan sosio drama Diponegoro memeriahkan tradisi Boyong Songsong Joholanang Padukuhan Ngasem Kalurahan Sindumartani Kapanewon Ngemplak, Sleman || YP-Toto Sugiharto

Yogyapos.com (SLEMAN) – Puluhan prajurit Prawirayuda tengah berlatih perang. Ada prajurit laki-laki, ada pula prajurit perempuan. Prajurit laki-laki di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Sedangkan prajurit perempuan dipimpin Ratnaningsih, isteri PangeranDiponegoro.

Tiba-tiba, Sentot Ali Basyah datang tergopoh-gopoh, melaporkan peristiwa datangnya pasukan Belanda di daerah Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Daerah itu tidak jauh dari Joholanang, berada di sebelah timur.

Maka, terjadilah perang tanding antara prajurit Prawirayuda melawan pasukan Belanda di Kawasan perbatasan Joholanang – Manisrenggo. Sampai akhirnya prajurit Prawirayuda mengalami kekalahan akibat kalah persenjataan dan jumlah pasukan. Pangeran Diponegoro kemudian berpesan agar warga setempat menghargai dan menghormati jasa para prajurit Prawiroyuda sampai kapan pun.

Demikian sosio drama hasil besutan Min Suratna yang mewarnai acara upacara adat tradisi Boyong Songsong dan Sadranan di Joholanang Padukuhan Ngasem Kalurahan Sindumartani Kapanewon Ngemplak, Sleman.

Min Suratna yang juga Ketua Forum Budaya Sindumartani berperan sebagai Diponegoro, Ratnaningsih diperankan oleh Si Phe, Sukardi sebagai Sentot, Ma’ruf sebagai Kasan Besari, Antok sebagai Surowijoyo, Siswanto sebagai Hangabehi, dan Sunan Kalijaga diperankan oleh Wakidi serta didukung puluhan pemeran prajurit Prawirayuda beserta anak-anak dan remaja penabuh gamelan.

Pertunjukan itu menjadi lebih hidup dengan sisipan efek suara dan tembang serta irama gamelan ala kethoprak yang dikelola seniman kethoprak Sugiman Dwi Nurseto yang juga sebagai pembawa acara. Warga Joholanang di Padukuhan Ngasem pun terhibur sambil menikmati kenduri sadranan.

Min Suratna usai pergelaran tersebut, Kamis (16/3/2023) siang mengatakan, upacara adat tersebut sudah turun-temurun dilakukan warga setempat setiap tanggal 23 Ruwah. Mereka menyebutnya, Telulikuran. Sejak mereka memiliki bregada (pasukan prajurit ala keraton) tiga tahun terakhir, mereka mengemas acara dilengkapi dengan sosio drama. Lebih-lebih, bregada Prawirayuda berhasil meraih juara kedua dalam Festival Bregada se-Kabupaten Sleman pada 2022. Juga, penata busana meraih juara kedua dari festival tersebut, warga setempat semakin bersemangat melestarikan adat tradisi.

“Dengan sosio drama, kami berharap masyarakat ingat pada sejarah dan menghargai jasa para pejuang. Juga, cikal bakal Sendang Joholanang dari cerita Sunan Kalijaga yang membuatnya,” ucapnya.

Upacara diawali dari lokasi Sendang Joholanang. Bregada Prawirayuda kemudian kirab pusaka songsong Kiai Tambak Boyo dan tombak Kiai Pleret menuju komplekmakamJoholaya, berjarak 500 meter arah barat dari sendang. Selain kirab, penyelenggara juga memetik beberapa helai daun beringin putih, padmanaba, dan pandan sirap. Ketiga pohon itu merupakan pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono X saat masih menyandang nama Pangeran Mangkubumi pada 1989.

“Pangeran Mangkubumi sebelum naik tahta maringi (memberikan) tombak Kiai Pleret dan songsong KiaiTambak Boyo, menanam pohon beringin putih, padmanaba, dan pandan sirap. Banyak calon pemimpin yang menjelang pemilihan, lelaku di sendang Joholanang untuk ikut ngalap berkah. Mereka mengikuti lelaku yang pernah dilakukan Nngarsa Dalem,” tambah Min Suratna. (R Toto Sugiharto)

 


share on: