Yogyapos.com (SLEMAN) – Geliat pertunjukan seni tradisi pasca pandemi Covid-19 sangat diharapkan. Para pelakunya harus didorong untuk mengaktualisasi diri agar tetap eksis dan bahkan berkembang di tengah derasnya teknologi informasi yang mempengaruhi pola hidup masyarakat modern.
Sejalan dengan itu, seni tradisi harus bisa meregenerasi dan menyentuh anak muda sehingga kesenian tradisional tetap hidup dan terus digemari dari generasi ke genasi.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-deklarasi-paguyuban-loyalis-soeharto-siap-perkuat-parsindo-7244
Demikian benang merah Sambung Rasa Budaya bertajuk ‘Peran Serta Media dalam Seni Tradisi’ yang berlangsung di Omah Tobong, Sidokarto, Godean Sleman, Kamis (16/6/2022) sore.
Hadir sebagai pembicara Ketua PasRi DIY Patmi Sugondo SPd, Mediana Pancawati mewakili Direktur TVRI Yogya Johan Setiawanm SSos, dan Ketua DPRD DIY Nuryadi SPd yang diwakili staf ahlinya.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-crid-feat-anto-baret-rilis-lagu-honocoroko-4518
Ketua Paguyuban Seni Tradisi (PaSri) DIY, Patmi Sugondo menjelaskan kehadiran PaSri sebagai komunikator dari paguyuban ke agar sanggar-sanggar seni tradisi bisa eksis kembali seperti sebelumnya.
“PaSri bukan saingan paguyuban atau sanggar seni tetapi mitra yang siap mengkomunikasikan keluh kesah paguyuban kepada pemangku kebijakan. Sehingga ke depannya seni tradisi bisa terus eksis dan bahkan bisa go internasional,” terang Patmi.
Menurutnya, perkembangkan teknologi dan komunikasi, kehadiran televisi dengan perkembangannya kini dan gadget sedikit banyak berpengaruh pada seni tradisi.
“Kendala di lapangan tidak sedikit sanggar dan paguyuban seni seperti kurang ngudi, kurang belajar, dan kurang mawas diri. Kadang kala sifat legowonya masih kurang, untuk itu marilah kita saling belajar saling mendukung sehingga melahirkan kemajuandi bidang seni tradisi,” imbuh Patmi.
Pada Sambung Rasa Budaya yang dihadiri para perwakilan sanggar dan paguyuban seni tradisi dari 4 kabupaten dan 1 kota di DIY itu terungkap, jika selama ini para pelaku seni tradisi mengaku butuh media dan ruang untuk mengaktualisai.
Butuh ruang pentas dan butuh pendanaan agar bisa terus berproses dan mengasah kemampuannya sehingga layak dijual. Sekalipun di DIY hal tersebut sudah difasilitasi dengan Dana Keistimewaan (Danais), namun tidak sedikit dari mereka yang belum mengetahui caranya untuk bisa memperoleh Danais.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-perupa-dedy-sufriadi-boyong-5-ton--buku-ke-jogja-gallery--3301
“Meski PaSri tidak menjanjikan untuk bisa memberikan (Danais), tetapi mari kita bersama-sema berjuang melestarikan seni tradisi. Banyak sanggar atau paguyuban seni yang kesulitan mengakses Danais, kami akan mencoba membantu mengkomunikasikannya kepada pemangku kebijakan terkait hal itu,” imbuh Patmi.
Sementara Mediana Pancawati menjelaskan, kehadiran TVRI Jogja sebagai media siaran publik memiliki tujuan memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat serta melestarikan budaya bangsa.
“TVRI Yogya senantiasa mengakomodir kesenian tradisi untuk bisa tampil di layar televisi. Sejumlah acara yang dimiliki TVRI Jogja pun banyak yang mengakomodir hal ini seperti Kethoprak, Obrolan Angkring, Sinden Ngetren, Pendopo Kang Tejo, Canthas, Kuncung Bawuk, dan juga Gladi Kawruh,” beber Mediana.
Persoalan yang ada lagi-lagi soal anggaran. Keterbatasan anggaran yang ada di TVRI Yogya memang tidak bisa mengakomodir semua kesenian tradisional untuk kemudian diproduksi dalam sebuah program siaran.
Namun demikian dijelaskan Mediana, selalu ada jalan keluar untuk mengatasi persoalan-persoalan terkait beaya produksi misalnya melalui kerjasama dengan lembaga atau pun berbagai pihak yang memiliki komitmen sama untuk mengembangkan seni tradisi.
“Salah satunya pernah dilakukan TVRI Yogya dengan program Pangkur Jenggleng yang cukup lama digemari masyarakat pemirsa,” terang Mediana.
Mediana kemudian menaruh harap, kehadiran PaSri bisa menjadi mitra dalam upaya ikut mengembangkan kesenian tradisional ini bisa tampil di TVRI Jogja dalam program-program baru yang nantinya bisa dilahirkan, mengingat potensi seni tradisi di DIY yang cukup besar. (*)
