Refleksi Hari Anak Nasional: Ironi Digital, dari Lapangan ke Layar

share on:
Puji Qomariyah, Dosen Sosiologi Universitas Widya Mataram dan Mahasiswa S3 IP-Sosiologi Pendidikan UNY || YP-Ist

SETIAP anak terlahir dengan cahaya. Mata mereka seharusnya bersinar saat mengejar kupu-kupu di taman, bukan hanya saat melihat likes di media sosial. Tangan mereka seharusnya mahir memegang buku dan pensil, bukan hanya menggeser layar. Hati mereka seharusnya penuh dengan keberanian berteman secara nyata, bukan hanya berani di balik avatar digital.

Anak-anak dari setiap generasi dibentuk oleh konteks sosial, teknologi, dan budaya pada zamannya. Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan cara anak-anak belajar, berinteraksi, dan berkembang.

BACA JUGA: Ini Harapan PD Aisyiyah Sleman terhadap Anak-anak

Anak-anak masa kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, perubahan struktur keluarga, dan tekanan sosial menciptakan berbagai masalah kritis yang memengaruhi perkembangan fisik, mental, dan sosial mereka.

Data hasil survei Kemenkominfo bahwa 71,3% anak Indonesia memiliki akses ke gadget, dengan 79% menggunakannya di luar waktu belajar (Kemenkominfo, 2022). Rata-rata waktu screen time anak Indonesia mencapai 5-7 jam/hari (IDAI, 2023). Data dari kemenkes bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi (Kemenkes, 2023).

BACA JUGA: Gugatan PMH Terkait Ijazah Jokowi, Komardin dan Ariyanto Serahkan Bukti

Kasus bunuh diri pada anak meningkat 30% dalam 5 tahun terakhir (WHO, 2023). Menurut riset penyebab utamanya adalah tekanan akademis, sistem pendidikan yang kompetitif membuat anak stress, bullying (perundungan), baik di sekolah maupun di dunia maya (cyberbullying) serta kurangnya dukungan emosional dari orang tua karena kesibukan kerja. Data yang tidak kalah mencemaskan bahwa 56% anak terpapar konten kekerasan dan pornografi sebelum usia 12 tahun (ECPAT Indonesia, 2023). Tren challenge berbahaya di media sosial memicu perilaku impulsif.

Sementara itu masih ada 25% anak Indonesia tidak memiliki akses internet untuk belajar (BPS, 2023). Anak miskin & daerah terpencil tertinggal dalam pembelajaran digital.Data lain angka perceraian meningkat yang menyebabkan lebih banyak anak tumbuh tanpa figur ayah/ibu (BPS, 2023). Orang tua terlalu sibuk, sehingga tanggungjawab asuh anak didelegasikan pada gadget atau ART.

BACA JUGA: Dua Pengedar Sabu Lolos dari Ancaman Hukuman Mati

World Economic Forum (2023) menyebutkan bahwa 40% pekerjaan masa depan akan digantikan AI, sehingga anak-anak harus bersaing dengan robot dalam dunia kerja. Dan tantangan besarnya adalah kurangnya kesiapan skill seperti kreativitas dan critical thinking. Dan ketergantungan pada AI bisa mengurangi kemampuan problem-solving mandiri.

Anak-anak saat ini menghadapi badai perfect storm yaitu perpaduan antara ancaman digital, krisis mental, dan ketidakpastian masa depan. Jika tidak segera ditangani, berisiko kehilangan generasi yang tidak hanya terluka secara emosional, tetapi juga tidak siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.

BACA JUGA: Jumhur Hidayat : Tunda Kenaikan Cukai Tembakau dan Berantas Rokok Ilegal

Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli menjadi momentum penting untuk merefleksikan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Kecanduan gadget adalah salah satu isu kritis yang mengubah kebiasaan anak-anak, mulai dari menurunnya minat baca, berkurangnya interaksi sosial, hingga terganggunya perkembangan karakter.

Neil Postman dalam Technopoly (1992) mengkritik dominasi teknologi yang mengikis nilai-nilai humanis. Gadget tidak hanya menjadi alat, tetapi membentuk cara berpikir anak. Pemikiran instan atau kurangnya kedalaman analisis karena informasi didapat secara cepat tanpa proses refleksi. Keterampilan sosial menurun karena kurangnya latihan berkomunikasi langsung.

BACA JUGA: ARPI Kirim Surat ke Kejagung Desak Usut Tuntas Dugaan Korupsi Dana Hibah

Albert Bandura seorang tokoh pendidikan yang membahas tentang teori belajar sosial  menekankan bahwa anak belajar melalui observasi dan imitasi. Jika lingkungan, termasuk sekolah tidak menyediakan model interaksi yang sehat, anak akan meniru perilaku individualistik dan ketergantungan pada gadget.

Dengan pendekatan yang tepat, sekolah dapat mengembalikan keseimbangan antara teknologi dan interaksi sosial, sekaligus menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk refleksi bersama. Generasi yang unggul bukanlah yang menjauhi teknologi, tetapi yang mampu menggunakannya dengan bijak dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. 

BACA JUGA: 74 Pelajar Siap Sebagai Paskibraka Sleman

Di tengah kondisi ini, sekolah dituntut untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk kepribadian anak melalui pendekatan pembelajaran yang mendalam dan bermakna. Kemendikdasmen menerapkan metode deep learning sebagai metode pembelajaran yang berfokus pada pemahaman kontekstual, kesadaran diri (mindful), relevansi kehidupan (meaningful), dan kegembiraan belajar (joyful), diharapkan dapat menjadi solusi.

Tindakan nyata dari semua pihak (orang tua, sekolah, pemerintah) sangat mendesak untuk melindungi masa depan anak-anak Indonesia. Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, kini saatnya kita, semua orang dewasa di sekitar anak-anak, bergandengan tangan. Untuk orang tua, jadilah pelindung, bukan hanya provider, batasi gadget, tetapi perluas pelukan. Untuk guru, ajarkan mereka bukan hanya matematika, tetapi juga cara mencintai belajar. Pemerintah, bangun kebijakan yang tidak hanya memajukan infrastruktur digital, tetapi juga infrastruktur hati anak-anak. Untuk anak-anak Indonesia, dunia ini lebih luas dari layar ponselmu, keluarlah, bermainlah, bermimpilah! (Penulis: Puji Qomariyah, Dosen Sosiologi Universitas Widya Mataram dan Mahasiswa S3 IP-Sosiologi Pendidikan UNY)

 

 

 


share on: