Rerasan Akhir Lusono (6) : Belajar dari Unen-unen Jawa

share on:
Dr Akhir Lusono SSn

BUDAYA adalah sebuah konsep yang sulit didefinisikan secara formal. Budaya merupakan keseluruhan pola pemikiran, perasaan dan tindakan dari suatu kelompok sosial, yang membedakan dengan kelompok sosial yang lain (Hwang & Choi, 2017). Budaya juga diartikan sebagai“way of life of society” (A.K. Jain, 2015). Budaya sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adatistiadat dan setiap kemampuan lain dar ikebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat (bragger et al, 2015). Sementara budaya Jawa adalah adat istiadat yang secara realita ada di masyarakat Jawa. Dilestarikan dan dilakukan oleh orang Jawa baik yang ada di pulau Jawa maupun orang Jawa yang berada di pulau atau negara lain.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-rerasan-akhir-lusono-4--mengindahkan-budaya-jawa-6284

Setiap orang Jawa dituntut untuk bias hidup harmonis dan menjaga keharmonisan satu sama yang lain. Prinsip nilai budaya berfungsi sebagai pedoman perilaku masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, system nilai budaya dimanifestasikan dalam norma, aturan, etiket, rasa hormat dan hokum (Raharjo, 2013).Biasanya dijiwai betul oleh orang Jawa.

Orang Jawa dikenal memiliki stereotype sebagai suku bangsa atau kelompok orang yang berpenampilan halus dan sopan. Ciri khas yang dimiliki orang Jawa adalah menggunakan bahasa Jawa yang oleh para pakar bahasa di dunia, bahasa Jawa merupakan bahasa yang halus dan sopan (Yana, 2010). Suku Jawa sendiri dalam kehidupan sehari-harinya memiliki falsafah kehidupan yang sangat bermakna. Apalagi di tengah kehidupan hiruk-pikuk yang serba milenial. Jangan sampai nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi Jawa atau unen-unen yang hebat ini luntur. Kita harus berusaha untuk mencegahnya. Unen-unen itu diantaranya adalah:

BACA JUGA:  https://yogyapos.com/berita-rerasan-akhir-lusono-3--awas-gadged-dapat-membunuhmu-6243

Pertama, narima ing pandum, masyarakat Jawa diharapkan dapat menerima pemberian dari Yang Maha Kuasa setelah bekerja keras secara nyata. Menerima pemberian Tuhan Yang Maha Esa setelah berihtiar, bukan menerima dengan kepasrahan total tanpa berbuat apapun. Itulah hebatnya orang Jawa. Sehingga dengan menerapkan prinsip hidup yang demikian akan dijauhkan dari sikap berebut pekerjaan. Karena nasib, jodoh, rezeki dan kematian adalah hak mutlak dari sang pencipta. Manusia atau titah tinggal menjalani. Tidak bisa sewali. Hanya kerja keras, kerja nyata dan kerja cerdas. Perkara hasil kembali pada sikap narima ing pandum.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-rerasan-akhir-lusono-2-memaknai-kelangkaan-orang-berperilaku-ocb-di-era-milenial-6205

Kedua, rumangsa melu handarbeni. Kata rumangsa berarti merasakan, menyadari. Handarbeni artinya memiliki. Secara harfiah berarti, ikut merasakan sebagai miliknya. Dalam arti simbolis kata-kata tersebut bermakna terhadap tugas  dan tanggung jawab seseorang yang harus menyadari bahwa tugas-tugas tersebut harus dirasakan, disadari sebagai miliknya. Apabila sesuatu atau tugas tersebut diterima dan dianggap sebagai miliknya, diharapkan dapat mendorong “melaksanakan tugas” secara bertanggung jawab dan tidak setengah hati.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-rerasan-akhir-lusono-mensikapi-zaman-apa-sudah-edan-6141

Ketiga, wajib melu hangrungkebi. Kata melu berarti ikut. Hangrungkebi berarti melindungi, siap berkorban untuk membela. Artinya untuk, menjadi seorang karyawan atau pemimpin, harus selalu siap untuk berkorban dalam melaksanakan tugas dengan segala tantangan dan resikonya. Sikap ini merupakan sikap berkelimpahan yang dimiliki seseorang. Ini merupakan habit, karakter dan butuh diperjuangkan agar dapat dibiasakan supaya menjadi bagian integral yang manjing dalam diri seseorang. Prosesnya tentu membutuhkan waktu, tidak dapat dilakukan secara sekonyong-konyong. Tiba-tiba memiliki rasa hangrungkebi. Membutuhkan proseslah  yang lambat laun menuntunnya.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-rerasan-akhir-lusono-5--purwadmadi-admadipurwo-berikan-ilmu-tanpa-wigahwigih-6338

Keempat, mulat sarira hangrasa wani. Kata mulat berarti melihat diri sendiri. Sarira berarti badan, tubuh. Hangrasa berarti merasa sedang wani artinya adalah berani. Untuk memahami arti kata-kata tersebut, harus dibaca dari belakang, yaitu berani merasa, melihat diri sendiri. Makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut adalah seseorang harus bersedia secara terbuka untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam dirinya. Bisa rumangsa dan tidak rumangsa bisa. Dalam khasanah budaya Jawa mulatsarira hangrasawani ini sangat dalam maknanya.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-akhir-lusono-penggurit-mbeling-berulah-via-youtube-2070

Kelima, manunggaling kawula lan Gusti. Secara sosial kawula mewakili strata terendah, sedangkan Gusti mewakili strata tertinggi. Perbedaan strata ini dihadapkan pada situasi saling membutuhkan, oleh karena itu semua orang wajib untuk mempertahankan dan untuk membawa diri sesuai dengan statusnya masing-masing. Perbedaan status ini dibedakan menurut usia, keturunan, pangkat atau jabatan dan kekayaan.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-akhir-lusono-lsbo-diy-siap-nggelar-klasa--kanggo-maca-lan-ngaca-5235

Tentu masih banyak lagi unen-unen yang ada di budayaJawa. Namun setidaknya lima unen-unen tersebut secara prinsip dapat mewakili khasanah budaya Jawa yang patut dipertahankan. Karena dapat membentengi masyarakat dari keterpurukan yang lebih dalam karena kemajuan zaman. Dan menjaga kita untuk mengendalikan hawa nafsu aluamah yang menguasai diri.  Memang berat untuk menerapkannya. Membutuhkan proses dan pembiasaan yang sungguh-sungguh. Namun demikian ada ungkapan yang masyur: Jaya-jayawijayanti, Suradira Jayaningrat, lebur dening pangastuti. Hal baik akan bisa mengalahkan keangkaramurkaan. (Dr Akhir Lusono, bekerja di BBPPMPV Seni dan Budaya, Kemdikbudristek RI).


share on: